Kami Disini Peduli Dengan Sejarah dan Budaya Banjarnegara

Komunitas Sejarah dan Budaya yang mengupas tuntas sejarah peristiwa, benda dan bangunan cagar budaya Banjarnegara.

Mulai Dari Sini

Apa yang Kami Ulas?

Peristiwa

merupakan kejadian atau fakta yang pernah terjadi di Banjarnegara dan menjadi sumber data sejarah Kabupaten Banjarnegara

Read More

Bangunan

Bangunan bersejarah merupakan suatu bukti adanya aktivitas manusia (sejarah) yang menjadi indikator untuk melihat perkembangan sejarah di Banjarnegara

Read More

Kebudayaan

Kebudayaan adalah sesuatu yang di wariskan secara turun-temurun dan memiliki nilai yang luhur , di Banjarnegara kebudayaan dapat ditemui di segala sudut.

Read More

Event

Kami rutin mengadakan event dalam mengenalkan sejarah Banjarnegara pada masyarakat. Follow IG @cagarbudaya_ untuk Update terkini.

Read More

Sejarah Banjarnegara

Rabu, 02 September 2020

Sejarah Singkat Banjar Pertambakan

Sejarah Singkat Banjar Pertambakan


Dari Sini berdirinya Banjarnegara.

Sebelum membaca yang ini, lebih bagus lagi baca tentang Sejarah Kadipaten Wirasaba.

ada di Sorotan Babad @Cagarbudayambanjar .

Nah yang sudah pernah baca postingan mimin tentang Larangan Memakan Daging Angsa, pasti sudah tau bahwa dahulu pada tahun 1571 terjadi sebuah kesalahfahaman antara Sultan Pajang dengan Adipati Wirasaba, dan berakibat meninggalnya Adipati Wrgautama I.

Singkat cerita, karena rasa bersalahnya kepada Adipati wirasaba, maka (R.Jaka Kaiman) salah satu anak menantu yang berani menghadap ke pajang, diangkat menjadi Adipati Wargautama II.

namun karena ia merasa hanya anak menantu, maka ia meminta agar wilayah Wirasaba yang luas ini dibagi menjadi 4, salah satu wilayahnya yaitu Banjarpetambakan yang diberikan kepada Kyai Ngabei Wirayudha.

Setelah 40 Tahun, ternyata wilayah Banjarpetambakan kurang berkembang, Akhirnya diutuslah R. Banyakwide anak dari Bupati Banyumas ke 4, Untuk menjabad sebagai adipati di Banjarpetambakan.

sepeninggalanya daerah ini diperintah oleh anaknya, yaitu Kyai Ngabei Mangunyudha.

Kyai Mangunyudha meninggal dalam peristiwa tragis di Loji VOC dan dikenal dengan nama Adipati Mangunyudha Sedo Loji.

sepeninggalnya digantikan oleh R. Ngabei Mangunyudha II

lalu memindahkan Wilayah Kabupaten ke Barat Sungai Mrawu, dengan daerah yang dikenal dengan Banjar Watu Lembu

R. Ngabei Mangunyudo II merupakan Bupati Banjar Watu Lembu Pertama, yang kemudian digantikan oleh puteranya, bergelar Kyai R. Ngabei Mangunyudo III yang kemudian berganti nama menjadi Kyai R. Ngabei Mangunbroto, Bupati Anom Banjar Selolembu. Masih dari sumber yang sama, R. Ngabei Mangunbroto wafat karena bunuh diri.

Penggantinya adalah R.T. Mangunsubroto yang memerintah Kabupaten Banjar Watulembu sampai tahun 1831. .

Begitulah riwayat singkat Tanah gilar-gilar ini, sebelum dipindahkan oleh Tumenggung Dipoyudha ke Selatan sungai serayu dan dikenal dengan dengan nama Banjarnegara. .

Inspeksi Rumah di Karangkobar Tahun 1928

Inspeksi Rumah di Karangkobar Tahun 1928



Halo Sobat Cagar Budaya..

ini adalah potret dengan keterangan sebuah inspeksi perbaikan rumah di Karangkobar tahun 1928.

nah dimungkinkan rumah yang diperbaiki adalah rumah pejabad setempat atau bangunan Kawedanan.

di era Kolonial Belanda, Karangkobar sudah ramai dan juga menjadi pusat perekonomian di utara Banjarnegara. salah satu yang menjadikan Karangkobar penting juda karena adanya Gudang penampungan hasil alam seperti Kopi, karang kobae menjadi pusat penyetoram Kopi dari daerah-daerah di sekitarnya seperti Kalibening, Pagentan dan Pejawaran.

nah di foto ini, terdapat juga masyarakat serta anak-anak, hm... mungkin salah satunya adalah kakek nenek sobat Cagar Budaya yang dari Karangkobar

Inilah sedikit gambaran bagaimana keghidupan di kala itu.

ayo Kenali Sejarahmu, Sejarah Kita Bersama

karna sejarah adalah Jati diri Bangsa


Kampung Belanda Di Klampok Banjarnegara

Kampung Belanda Di Klampok Banjarnegara



 INI TENTANG KAMPUNG BELANDA

Klampok, adalah salah satu Desa di Kecamatan Purwareja Klampok, merupakan sebuah perkampungan Belanda di era kolonial.

nah meski di kenal sebagai bangsa yang menjajah Indonesia, dahulu saking lamanya mereka bermukim di Jawa, kehidupan mereka bahkan sudah membaur dengan orang lokal.

layaknya manusia biasa, mereka juga butuh berolahraga, foto diatas diambil setelah para menir bermain tenis di klampok, orang belanda juga kerap bermain sepak bola bahkan melibatkan penduduk lokal pada sore hari, dan disaksikan oleh masyarakat sekitar.

Adanya pabrik gula klampok merupakan salah satu sebab berdirinya perkampungan ini, karena banyaknya pekerja yang merupakan orang belanda dan eropa, akhirnya dibangun juga rumah untuk tinggal para pekerja ini, di klampok kita masih bisa melihat bekas perumahan belanda, bahkan disini juga terdapat Kantor Pos yang memang sudah digunakan sejak era belanda, dan fungsinya blum berubah sampai saat ini.

Yuk Main ke Klampok

Mengenal Sejarah dan Budayanya

Arca garuda dan Wisnu Dataran tinggi Dieng

Arca garuda dan Wisnu Dataran tinggi Dieng



Halo Sobat Budaya !.. .

pernah mendengar tentang Garuda Wisnu Kencana?.. dimana dewa wisnu digambarkan menunggangi garuda

dalam beberapa fersi, cerita dan penggambaranya merupakan sebuah pesan misi penyelamatan alam dan lingkungan.

nah Di Era kolonial Belanda, terdapat arca berupa wisnu yang sedang menaiki garuda, arca ini berasal dari abad ke-8/9 di era Mataram Kuno.

saat ditemukan, kondisi arca ini terpenggal dibagian kepala dewa Wisnu.

arca ini juga sudah tidak ada di museum kailasa-Dieng, dimungkinkan arca ini dibawa ke Museum Nasional bersama puluhan acra lainya di masa kolonialisme Belanda dahulu.

Adanya arca ini juga menunjukan eksistensi agama hindu yang pernah ada di Banjarnegara.

Ayo Cintai Sejarah kita

kenali, lindungi, dan lestarikan

Cagar Budaya Indonesia

Sejarah Agraria Dieng

Sejarah Agraria Dieng



Ini Tentang Pertanahan

dahulu saat kekuasan mataram hindu mulai berkuasa di Dieng, sebagain besar wilayah yang ada di Dieng merupakan tanah yang telah diberi status sima, atau tanah perdikan, dimana tanah tersebut dibebaskan dari pajak atau diberi keringanan dalam membayar pajak.

tanah-tanah yang diberi status semacam ini, biasanya merupakan tanah yang disitu dibangun tempat peribadatan atau tempat keagamaan (sekolah keagamaan, tenpat pertapaan, candi, rumah perawat candi serta rumah pekerja pembangun bangunan peribadatan). Beberapa prasasti yang ditemukan di dieng juga menyebutkan adanya status sima ini di Dieng, antara lain tertulis dalam prasasti Mangulihi, Prasasti Dieng 1 dan Dieng 2.

Pada Era kolonial Belanda, pemerintah saat itu melakukan pendataan terhadap bangunan-bangunan serta situs sejarah, dan memberikan perhatian yang cukup baik kepada Dieng, karena di beberapa wilayah yang tersebar situs telah dimiliki oleh warga, dan sebagian sudah dibuat menjadi lahan pertanian, maka pemerintah Kolonial Belanda saat itu membebaskan kembali lahan-lahan itu, pemerintah membayar kembali tanah tanah para penduduk agar tidak merusak situs yang ada.

tanah di Dieng saat itu dibatasi oleh beberapa pegunungan yang ada, seperti Gunung Prau, Gunung Bisma, Gunung Sipandu, dan Gunung Pakuwojo. tanah tersebut dikelola ole pemerintah kolonial belanda, dimana penanganan situs purbakala saat itu ada dibawah Comisie tot het Opsporen Verzamelen en Bewaen van Oudheidkundige Voorwerpe.

lain halnya pada masa kolonialisme dimana masyarakat di tentukan dengan amat ketat saat ingin mendirikan rumah atau bangunan di Dieng, di Era Presiden Soeharto tepatnya di tahun 70an, para penduduk yang kebanyakan adalah pendatang dari bawah Dieng, diberikan sertifikat lahan agar memperluas kebun pertanianya serta dapat membangun permukiman, ini dimaksudkan untuk mendukung program pariwisata serta pertumbuhan pertanian di dataran tinggi Dieng.

pada Tahun 1980an, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala dibawah Direktorat Pendidikan dan kebudayaan saat itu mendata kembali aset tanah serta situs yang dimiliki pemerintah sepeninggalan dari badan kepurbakalaan di era Kolonial Belanda, namun pada saat dilakukan pendataan, ternyata banyak lahan yang telah dimiliki oleh perseorangan, maka terjadilah tumpang tindih kepemilikan, akhirnya Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (Balai Pelestarian Cagar Budaya saat ini) memilih untuk membeli sebagian lahan yang terdapat situs, serta bedekatan dengan komplek percandian.

Inilah sedikit Cerita tentang perjalanan kepemilikan tanah di Dieng

yang jelas, saat ini Dieng serta semua yang ada disana, baik Alam, Cagar Budaya, serta wisata yang ada

juga milik kita bersama, mari kita jaga kebersihannya, jangan rusak yang ada, dan tetap jaga kelestarianya.

Sejarah Keramik Klampok Banjarnegara

Sejarah Keramik Klampok Banjarnegara

 


Pernah Ke Klampok?... .
.selain banyak bangunan cagar budaya di sini, ternyata klampok juga punya keistimewaan lainya.

apalagi kalau bukan Kramik Klampok. kramik yang satu ini konon adalah kramik pertama dari Indonesia yang tercatat di buku kramik dunia loh.. .
nah pendiri perusahaan kramik pertama di klampok adalah bapak Kandar Atmomihardjo. .
Di tahun 1935 beliau
mendapat kesempatan dari Pemerintah Belanda untuk belajar ilmu keramik di Keramische Laboratorium di Bandung. .
Selama setahun di sana Kandar mendalami seluk-beluk perkeramikan. Usai dari Bandung, Kandar diserahi tugas memimpin perusahaan keramik Banjarnegara. Namun, tugas tersebut hanya dipegangnya lima tahun. Sebab, setelah itu ia ditugaskan ke Magelang. Di sini pun ia tak tinggal lama, karena beberapa tahun kemudian dia kembali ke Klampok dan mendirikan Sekolah Teknik, yang salah satu jurusannya adalah teknik membuat keramik.

Tahun 1957, Kandar keluar dari Sekolah Teknik dan mendirikan perusahaan industri keramik yang diberi nama Meandallai.

Nama itu sebenarnya merupakan singkatan dari Mendidik Anak Dalam Lapangan Industri. Tenaga kerjanya, kebanyakan adalah anak-anak putus sekolah dan para pengangguran. Dari sinilah awal tumbuh dan menjamurnya perusahaan keramik di Klampok. .

Kandar Atmomihardjo sendiri meninggal pada 1977 lalu. Namun, usaha yang dirintisnya tidaklah sia-sia. Selain menjadi mata pencaharian bagi warga Klampok.

Kramik dari klampok ini sudah dikenal di berbagai negara, dari negara tetangga seperti singapura bahkan sampai negeri Belanda dan Amerika. bahkan di beberapa museum Dunia, dan di Indonesia kramik klampok terpajang sebagai salah satu koleksi dari berbagai museum di dunia itu.

Nah buat yang datang ke Klampok, jangan lupa juga mampir ke Pusat Kerajinan Kramik ya... .

Jangan Lupa Like, dan Komenya ya Sobat Cagar Budaya... 😊👍

Arsitektur Rumah Dataran Tinggi Dieng tahun 1900an

Arsitektur Rumah Dataran Tinggi Dieng tahun 1900an


 Dalam Potret ini, terlihat beberapa orang sedang memperbaiki atap rumah joglo, rumah di dieng dahulu kebanyakan terbuat dari kayu dan bambu,

atapnya berbentuk joglo, serta ditutup dengan welit / rumbia.

masyarakat di Dieng mendapatkan Welit yang terbuat dari daun aren/ kelapa/ atau palem paleman dari Pasar di Batur atau Garung.
tiang-tiang rumah dibuat dari kayu yang dibawahnya digunakan batu sebagai umpak.
nah yang unik, masyarakat pada saat itu kerap menggunakan batuan candi yang ada dimana-mana sebagai umpak/ pondasi rumah.
batu candi dipilih karena jumlahnya banyak dijumpai tercecer dimana-mana, serta ukuran dan bentuknya yang rapi membuat
masyarakat memilihnya.

disanyangkan memang, namun selain itu, didalam foto ini kita dapat melihat cara berpakaian orang Dieng jaman dahulu, para pria menggunakan Iket dan juga kain jarit.
di pekarangan rumah juga ada tanaman seperti kubis dan daun Bawang yang ditanam masyarakat.

menarik ya...
tetap stay at home ya teman-teman
jaga kesehatan dan kebersihan juga.

Our Blog

14372 foto
foto Banjarnegara Masa lampau
9000 Dokumen
dokumen berharga berdirinya Banjarnegara
6208 Artefak
sisa-sisa peradaban Banjarnegara

Our Team

Ahli Sejarah
Relawan
Budayawan
Relawan
Arkeolog
relawan
Penulis Sejarah
Relawan

Contact

Hubungi Kami

kami sangat mengapresiasi segala kontribusi anda dalam Sejarah dan Kebudayaan Banjarnegara, Bergabunglah bersama kami untuk mengangkat Kebudayaan Banjarnegara agar dikenal oleh masyarakat luas

Alamat:

Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia

Jam Kerja:

setiap saat kami ada

E-mail:

cbudayabanjar@gmail.com