Selasa, 26 Maret 2019

Soemitro Kolopaking Poerbonegoro


Anggota BPUPKI, 3 Zaman menjadi Bupati
Riwayat Ningrat Jiwa Merakyat
Soemitro Kolopaking Poerbonegoro dilahirkan di Papringan, Kabupaten Banyumas, Karesidenan Banyumas, 14 juni 1887. Dalam Tedhaka Serat Soedjarah  Joedanagaran  (koleksi Museum Sana Budaya, Yogyakarta) memuat teks Salasilah Kiyahi Kertawangsa Kalapahaking Sapindah pada halaman 128-133[1]. Silsilah tersebut sejalan dengan silsilah milik Mas Atmodipura, patih pensiun Purbalingga yang ditulis oleh Raden Riya Prayadirja, Wedana Srati Panandon di Ngayokyakarta Hadiningrat. Bedanya, silsilah pertama tidak mengaju kepada raja Maja Pahit Brawijaya V, tetapi langsung mengaitkan diri dengan tokoh kiyai Ageng Mangir IV dan Penambahan Senapati.
Babad Nagari Banyumas Wiwit Saking Phandita Putra Ing Pajajaran mengatakan bahwa putri Kangjeng Pangeran Arya Mertadireja III yang lahir dari garwa padmi diperistri oleh Raden Tumenggung Jayamisena, atau Jayanegara II. Perkawinan ini kemudian melahirkan Kangjeng Raden Arya Soemitro Kolopaking Poerbonegoro. Dilihat dari silsilahnya, Soemitro merupakan tokoh keturunan raja Majapahit, yaitu Brawijaya V. Brawijaya V seringkali dipakai sebagai padanan silsilah di Jawa, seperti halnya Siliwangi pada masyarakat Sunda. Keduanya adalah tokoh raja legendaris karena tidak dapat diidentifikasikan dengan tokoh-tokoh sejarah yang termuat di dalam prasasti. Namun, pengakuan keturunan Majapahit menjadi penting untuk melegitimasikan suatu trah atau dinasti.
Trah kolopaking sejak semula mengacu juga kepada tokoh-tokoh dari Mangir yang mempunyai senjata tombak yang ampuh. Kiai Ageng Mangir IV yang menjadi menantu Kiai Madusena dan Kiai Badranala menunjukan sebagai wijining atapa yang bergulir kepada ngabehi di Kalijerek dan selanjutnya Panjer.
Pelarian Sunan Amangkurat Tegalarum yang sampai di Panjer juga melegitimasikan trah Kolopaking karena asal mula nama trah itu muncul sebagai hadiah dari sunan, di samping hadiah putri, Raden Ayu Kaleting Abang. Di sini, sekali lagi dimunculkan trah Mataram bercampur dengan trah Kolopaking.
Trah yang berasal dari Wedi, Bagelen tampaknya juga ditampilkan dalam silsilah. Trah lain yang masuk adalah trah Arungbinangan. Trah ini Nampak pada perkawinan mas Tumenggung Kalapa Aking III dengan putri Raden Tumenggung Arung Binang II, Bupati Siti Ageng Surakarta. Anak yang lahir dari perkawinan itu adalah Kangjeng Raden Adipati Jayanegara I. kemudian trah dari Ambal, yaitu putri Raden Adipati Purbanegara yang menjadi istri Jayanegara I. perkawinan itu melahirkan Jayamisena atau Jayanegara II. Jayanegara II kawin dengan putri Pangeran Kangjeng Arya Mertadireja III. Perlu diketahui bahwa garwa padmi Mertadireja III adalah putri Dipadiningrat, bupati Banjarnegara 1846-1878. Tokoh Soemitro Kolopaking masih keturunan Majapahit, Syekh Geseng, Mangir, Panembahan Senapati, Amangkurat Tegalarum, Bagelen, Arungbinangan, Ambal, Mertadiredjan Banyumas, dan Dipayudan Banjarnegara.
Meski dari kalangan ningrat, namun perjalanan hidupnya ditempa sedemikian rupa sehingga ia terbiasa hidup layaknya rakyat jelata, terlebih ketika merantau di Eropa. Hal itu pula yang menjadikannya ketika kembali ke tanah air menjadi orang yang sangat peduli dengan rakyat ketika menjadi Bupati di era Kolonial Belanda, mampu mengawal transisi dari zaman Jepang ke zaman Republik Indonesia, dan mampu menjadi pemimpin yang banyak kiprahnya bagi rakyat.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang ingin diangkat dari makalah ini adalah: Bagaimana kehidupan Soemitro Kolopaking Poerbonegoro sehingga menjadi anggota BPUPKI dan menjadi Bupati pada tiga zaman yang berbeda?
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah: untuk mengetahui kehidupan Soemitro Kolopaking Poerbonegoro sehingga menjadi anggota BPUPKI dan menjadi Bupati pada tiga zaman yang berbeda.

Riwayat Pendidikan dan Pengembaraan
Soemitro Kolopaking memiliki riwayat pendidikannya sebagai berikut : Sekolah Jawa (1893-1896), Europese Lagere School (1896-1901), Gymnasium Willem III (H.B.S 5 tahun) di Jakarta dan Leiden (1901-1907), dan mahasiswa indologie di Leiden (1907-1914). Kisah hidup Soemitro sangat mengesankan. Hal itu disinggung oleh Harry A. Poeze dalam tulisannya yang Berjudul Orang-orang Indonesia di Universitas Leiden.[2] Tulisan ini menjadi salah satu makalah yang disampaikan dalam rangka kunjungan Menteri Agama RI, H. Munawir Sjadzali, M.A. ke negeri Belanda (31 Oktober-7 November 1988).
Pada tahun 1907, Soemitro pergi dari Indonesia untuk mengembara di daratan Eropa. Seorang pamannya yang bernama Raden Danoesoebroto, patih Purwokerto pada masa itu, membantu kemenakannya dengan uang sejumlah Rp.300,00 sebagai uang saku. Pemuda Soemitro berangkat ke Eropa dengan membayar tiket seharga 285 rupiah di kapal Norddeutsche Lloyd Prinz Eitel Friedrich dan mendarat di Antwerp pada musim gugur dengan membawa uang 15 rupiah dan bungkusan pakain putih yang tipis. Dalam pengembaraanya itu, Soemitro memakai nama samaran Wilhelm August Snell dan mengaku keturunan ayah Jerman dan ibu seorang Jawa. Untuk mempetahankan kehidupannya di Eropa, Soemitro bekerja sebagai buruh dan menulis karangan tentang Indonesia di majalah Sketch dan Die Woche.
Pada tahun 1908-1909, Soemitro sembari kuliah, juga bekerja sebagai buruh tambang batubara pada Gewerkschaft Dentscher Kaiser Bruckkausen Am Rhein, wilayah Ruhr, Jerman. Buruh-buruh tambang di situ sebagian besar adalah bukan orang Jerman, tetapi dari berbagi Negara seperti Russia, Polandia, Australia, (?), Belanda, Italia, Denmark, Belgia, dll. Perbedaan bangsa memang seringkali menimbulkan kesalahpahaman. Namun, Soemitro melihat bahwasanya masyarakat Eropa pada umumnya tidak membedakan ras kulit putih dengan ras kulit berwarna.
Soemitro pada tahun 1911 bekerja di pabrik penggergajian di Riga, ibu kota Latvia. Di situ, Soemitro mengamati Negara-negara Baltik, seperti Estonia, Latvia, dan Lithuania, masih merdeka. Namun, pada tahun 1911 pengaruh Russia sudah dapat dirasakan dengan jelas. Dari Latvia, Soemitro sesekali memasuki Russia. Kehidupan di Russia sangat feodalistik karena dikuasai oleh para bangsawan (boyar) yang sering melakukan tindakan kejam kepada rakyatnya.
Sebagai pekerja di penggergajian kayu, Soemitro mengetahui bahwa balok-balok kayu di pabrik itu berasal dari Swedia dan Finlandia. Soemitro memutukan untuk bekerja dua atau tiga bulan di jawatan kehutanan di salah satu Negara penghasil kayu tersebut. Orang Russia yang bekerja sebagai montir menyayangkan keputusan Soemitro. Ia menyarankan agar Soemitro mengikuti kurus montir dan setelah lulus agar melamar salah seorang dari tiga putrinya.[3]
Namun, Soemitro menolak tawaran itu dengan alasan akan menyelesaikan pendidikan dan pekerjaannya di Nedherland. Soemitro yang berjiwa avonturir ingin mencoba kehidupan di tempat lain. Soemitro diterima bekerja di jawatan kehutanan di Swedia utara. Karena tidak cocok dengan cuaca yang dingin, ia mengajukan permohonan untuk dipindahkan ke Swedia Selatan. Soemitro kemudian menghitung penghasilannya di Latvia dan Swedia dan ternyata cukup untuk membiayai kuliahnya di Universitas Leiden selama 7-8 bulan. Soemitro menghadap Rektor Universitas Uppsala di Stockholm agar dapat mengikuti kuliah sebagai mahasiswa pendengar. Permohonan itu dikabulkan oleh rektor dan Soemitro mencari pondokan yang murah. Agaknya, Soemitro beruntung karena ia dianggap seperti anaknya sendiri oleh keluarga Svensen.
Soemitro merupakan seorang mahasiswa bebas yang mengikuti kuliah pada universitas di mana-mana. Pada awal abad ke-20 di Eropa Continental terdapat semboyan ilmu pengetahuan untuk ilmu pengetahuan, sedangkan di Inggris ada semboyan we must make of our daughters and sons ladies and gentleman.
Pada awal abad ke-20, di Belanda belum banyak perguruan tinggi, begitu juga dengan mahasiswa yang hanya berjumlah 3.000, atau 3.500 orang. Dari jumlah itu, hanya ada puluhan mahasiswa perempuan. Guru-guru besar sudah banyak, asisten dan dosen juga cukup. Biaya kuliah setahun sejumlah 200 gulden tanpa tambahan apapun. Universitas menerbitkan panduan kuliah universiteitgids yang berisi jadwal kuliah dan praktikum sehingga bagi siswa yang memiliki waktu luang dapat mengikuti kuliah di fakultas lain sebagai mahasiswa pendengar. Hal itu juga bisa di lakukan di Negara-negara Eropa lainnya yang memakai bahasa pengantar Inggris, Perancis, dan Jerman dengan syarat menunjukan kartu mahasiswanya. Untuk mengikuti kuliah di Bonn, Koln, dan Paris hanya mengeluarkan ongkos transportasi sebanyak 1,88 gulden. Seorang mahasiswa dapat mengikuti kuliah di mana-mana dengan gratis sebagai pendengar. Mahasiswa-mahasiswa asing diterima dan dibantu karena kurikulum di Eropa telah disusun bersama, meskipun memakai bahasa pengantar yang berbeda. Tahun 1908, ia menjadi  aktivis Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) atas dorongan Abendanon dan Casajangan[4], yang organisasi tersebut nantinya menjadi cikal bakal Perhimpunan Indonesia. Soemitro menjabat sebagai sekretaris dalam oraganisasi itu.
Ada satu pengalaman yang amat berharga diperoleh Soemitro ketika bekerja di Albania dan Mesir. Pengalaman seperti itu tidak akan didapatkannya di bangku kuliah, yaitu toleransi kehidupan beragama yang mengesankan hati dan jiwa Soemitro sebagai seorang mahasiswa bebas. Di Albania, Soemitro menginap di sebuah kota kecil yang bernama Zara. Kota itu terletak dekat laut Adriatik dan besarnya sama dengan ibukota kecamatan Muntilan, kabupaten Magelang. Penduduk kota Zara seprtiga beragama Greco Katholik, sepertiga memeluk Yahudi, dan sepertiga beragama Islam. Di Zara hanya ada sebuah tempat ibadah. Atas musyawarah para pemimpin agama di Zara ditetapkan bahwa pada hari Jumat dijadikan masjid, hari Sabtu dijadikan synagogue, hari Minggu dijadikan gereja Greco Katholik. Di luar hari-hari itu juga ditetapkan pada hari apa dan jam berapa umat Islam, Yahudi, dan Greco Katholik membutuhkan untuk bersembahyang.
Dari Albania, Soemitro menumpang sebuah kapal dan mendarat di Kairo pada hari Rabu. Pada hari Jumat, kaum muslimin hendak bersembahyang di masjid Fuad, di antaranya ada dua orang santri Indonesia yang tinggal di Mesir selama tiga tahun untuk mempelajari Islam. Soemitro juga bersembahyang di masjid Fuad (ayah Raja Farouk). Sembahyang Jumat akan dimulai pukul 11.30 waktu setempat. Soemitro menempati bagian serambi paling belakang dekat dengan pintu besar masjid. Pada pukul 11.00, bapak imam telah tiba dan beliau dihubungi oleh tiga orang asing yang berbicara dalam bahasa Prancis dan Inggris. Mereka meminta izin kepada bapak imam agar diperbolehkan berembahyang menurut agama mereka masing-masing. Bapak imam mengizinkan permintaan itu. Ketiga orang tersebut bersembahyang di depan Soemitro. Mereka adalah pemeluk agama yang berbeda, yaitu seorang beragama Protestan, seorang beragama Brahman, dan seorang beragama Kong Fu Tse.
Setelah sembahyang Jumat selesai, Soemitro menemui bapak imam masjid fuad. Soemitro merasa memperoleh anugerah dan kehormatan karena dapat bersembahyang di masjid Fuad, lebih-lebih sembahyang di belakang tiga orang asing non muslim. Meskipun bapak imam masjid Fuad belum pernah ke Indonesia, tetapi beliau pernah mendengar bahwa toleransi agama di Indonesia juga besar. Setelah kembali ke tanah air, sikap tolerannya terlihat jelas dengan melindungi misionaris Kristen yang bergerak di kawasan Karangkobar, yang mereka adalah penganut Kyai Sadrach, namun juga mendukung aktivitas pergerakan keislaman seperti Syarikat Islam di Banjarnegara.
Pada tahun 1915, Soemitro kembali ke tanah air dengan membawa banyak pengalaman dan ajaran-ajaran dari para guru besarnya. Namun, Soemitro tidak dapat menyelesaikan kuliahnya. Setahun sebelumnya, di Hindia Belanda telah dilakukan modernisasi Kepolosian Negara. Seorang pribumi yang bekerja di lembaga kepolisian bisa mencapai pangkat setinggi-tingginya hoofpolitieopziener (Inspektur Kepala). Tahun 1917, Soemitro belajar selama dua tahun di sekolah polisi di Jakarta dan lulus 1919. Selanjutnya, Soemitro ditempatkan di kota Bandung sebagai Komisaris Polisi Kelas II (seksi chef). Kemudian, ia naik pangkat menjadi Komisaris I (1922) dan menjadi  Gewestelijk Leider De Veldepolitie di Karesidenan Priyangan Lama. Veldpolitie sama dengan kesatuan Brimob dalam Kepolisian Republik Indonesia. Jadi, Soemitro merupakan seorang pribumi yang dapat menembus jabatan yang lebih tinggi daripada hoofpolitieopziener.
3 Zaman Menjadi Bupati
Setelah menjadi Komisiaris Polisi di daerah Priyangan (1922-1925), Soemitro diangkat menjadi Wedana Sumpyuh atas permintaan keluarganya di Banyumas. Selanjutnya, Soemitro diangkat menjadi Bupati Banjarnegara (1926-1950) untuk menggantikan ayahnya. Pada masa revolusi, Soemitro menjadi residen Pekalongan (merangkap bupati, 1945) dan merangkap gubernur yang diperbantukan oleh Kementrian Dalam Negeri tahun 1946. Tahun 1947-1949, ia ikut bergerilya. Soemitro pernah menjadi anggota DPR pada tahun 1955. Soemitro adalah Bupati Banjarnegara tiga zaman, yaitu masa pemerintahan kolonial Belanda, masa pendudukan Jepang, dan masa Republik Indonesia.
Soemitro sangat tertarik dengan masalah-masalah yang muncul di pedesaan. Desa yang berbasiskan pertanian dipandang penting sebagai pemasok kebutuhan orang yang tinggal di kota, khususnya hasil hasil pertanian. Pembangunan masyarakat desa menemui banyak kendala. Diantaranya adalah letak desa-desa yang terpencil cukup banyak. Desa-desa tersebut terletak di lereng gunung dan di tengah rawa-rawa sehingga masalah transportasi pun harus dipecahkan. Sebagai bupati Banjarnegara, Soemitro tidak sekedar menerima laoran-laporan yang disampaikan oleh wedana, tetapi ia juga turun ke desa-desa untuk mengetahui persoalan berbagai bidang, misalnya, keamanan, pertanian, kehewanan, kehutanan, pengairan dll. Masalah pembangunan di desa dilakukan dengan mengintensifkan lembaga-lembaga yang sudah ada. Setiap desa dipimpin oleh seorang lurah. Di Karesidenan Kedu dan Banyumas  terdapat 4-5 desa yang menjadi satu-kesatuan dan dipimpin oleh pinisepuh yang disebut penatus. Wilayah itu disebut daerah penatusan biasanya memiliki 3.000-5.000 penduduk. Penatus dipilih dari lurah-lurah. Penatus bertugas sebagai penasihat lurah dan membantu camat dalam bidang pedesaan, serta menjadi bapak bagi penduduk penatusan. Di Karesidenan Kedu, penasihat semacam itu disebut glondhong dan daerahnya glondhongan.
Kabupaten Banjarnegara pada zaman kolonial Belanda meliputi kurang lebih 250 desa yang terbagi menjadi 50 penatusan. Sebagai bupati, Soemitro membina hubungan yang baik dan erat dengan desa-desa serta menciptakan rasa persaudaraan. Hubungan pribadi Soemitro dengan penduduk desa dimulai dengan kunjungan pribadi dan secara rahasia, tanpa ada pengawal. Penduduk yang dikunjungi secara pribadi biasanya dipilih dari setiap penatusan sebanyak 1-3 orang. Orang-orang yang dipilih biasanya memiliki keluarga besar. Syarat lain adalah kejujuran, progresif, berani, terus-terang, dan pengalaman hidup yang luas. Selain itu, ia juga harus dapat dipercaya penatus dan lingkungan desanya.
Kunjungan pribadi selalu bersifat rahasia. Soemitro berpakaian sederhana dan biasanya membawa sedikit oleh-oleh seperti kue, tempe keripik, dll. Soemitro mendatangi desa sendirian dengan berjalan kaki sejauh 5-10 km. kunjungan bupati secara rahasia selalu mengejutkan sehingga banyak orang berdatangan untuk melihat wajah bupatinya. Soemitro tidak banyak bicara melainkan banyak mendengar laporan-laporan tidak resmi dari mulut rakyatnya.
Kunjungan pribadi Soemitro telah mendekatkan ia dengan rakyatnya. Pendekatan itu mempermudah tugasnya sebagai bupati. Berbagai kesulitan, kekerasan, dll., dapat diselesaikan dengan mudah. Kepercayaan dari rakyat akan sangat menunjang kerja seorang bupati. Pendek kata, seorang pejabat yang merakyat dan menjauhkan diri dari sikap feodalistik, akan lebih sukses dalam menjalankan tugasnya. Kehidupan bersama rakyat menjadikan Soemitro hidup dengan penuh kesederhanaan. Selain menerima laporan tidak resmi, Soemitro juga banyak mendengarkan keluh-kesah rakyatnya. Berbagai keluhan dijawab oleh Soemitro dengan cara menghibur rakyatnya.
Di samping itu, Soemitro ternyata seorang juru penerang pertanian yang berhasil, bahkan ia menjadi perintis kerajinan keramik di Banjarnegara. Soemitro telah menemukan suatu daerah yang tanah liat yang amat baik untuk dijadikan bahan keramik, yaitu di Klampok. Ia memeriksakan tanah liat itu ke Bandung dan meminta penjelasan lengkap tentang kemungkinan pemanfaatannya. Lalu, ia dirikan pabrik kecil untuk membuat keramik. Soemitro juga menemukan cara agar keramik itu lebih indah dan mengkilap. Pengalaman hidup Soemitro di Eropa telah mempengaruhi kehidupannya di kemudian hari. Di samping kehidupannya dengan rakyat jelata, Soemitro juga pernah menjadi anggota Badan Penasihat dan Pembantu Jawatan Kehutanan Negara dan Dinas Purbakala.
Soemitro memilki tiga orang idola, yaitu Dr. dms. Albert Schweitzer dari Elzas, Rabindranath dari india, dan Prof. Mr. Cornelis van Vollenhoven dari negeri Belanda. Tokoh yang terakhir adalah guru besar dari Universitas Leiden, Nederland , yang sering disebut sebagai Bapak Ilmu Hukum Adat di Indonesia.
Prof. van Vollenhaven ketika berkunjung ke Banjarnegara tahun 1933, menemui Soemitro dan membicarakan secara ilmiah kondisi dunia pada periode 1910 sampai 1933 selama setengah jam. Pokok-pokok pesan dari Prof. van Vollenhaven tidak jauh berbeda dengan nasihat orang tua Soemitro agar tidak terlalu mendewakan pangkat yang tinggi, tidak terlalu bangga terhadap trah kebangsawanannya, dan tidak mengejar popularitas yang kosong. Satu hal yang mengejutkan Soemitro adalah pengakuan Prof. van Vollenhaven yang menganggap dirinya onrij (belum matang) sehingga tidak menjawab pernyataan Soemitro tahun 1912 dan baru tahun 1933 dijawab. Pada bulan april 1933, Prof. van Vollenhaven meninggal dunia setelah memberi pesan-pesan terakhirnya kepada Soemitro.
Soemitro berharap agar generasi muda memahami berbagai macam kondisi kehidupan, baik di luar negeri maupun di Indonesia. Soemitro dengan keyakinan yang kuat telah membuktikan bahwa kehidupan bukan hanya bertumpu pada gelar kebangsawanan saja, melainkan juga keuletan dan kesabaran dalam menghadapi segala tantangan hidup.
Soemitro menyarankan agar generasi muda tidak hanya mengejar kemajuan jasmaniah saja, tetapi juga kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan kerohanian (agama). Keseimbangan kemajuan di bidang-bidang tadi harus diupayakan secara terus-menerus. Sehubungan denan hal itu, Soemitro mengajukan tiga alat pelaksana hidup, yaitu kejujuran, kejuruan, dan pengalaman. Ketiga hal itu merupakan kunci pokok dalam menghadapi kehidupan yang kompetetif. Pada masa kini, kejujuran diabaikan dan merupakan barang yang langka serta dianggap sebagai penghambat kemajuan. Kejuruan dan pengalaman kerja lebih diutamakan. Hal itu tampak jelas manakala Soemitro pergi ke Eropa pada tahun 1951 dan 1952. Pada masa itu, Eropa sangat maju bila dibandingkan dengan lima puluh tahun yang lalu. Di samping ada kemajuan yang menajukjubkan, di beberapa Negara terjadi kemerosotan moral yang amat membahayakan kehidupan manusia di kemudian hari.
Kerusakan di muka bumi ini disebabkan oleh dua faktor, yaitu kemajuan di bidang material dan kemerosotan moral. Dalam pendidikan, manusia juga belajar dari alam dan lingkungannya. Pada hakikatnya pendidikan mengarahkan pada manusia agar dapat menikmati keindahan dunia tanpa kecemasan akan rasa serba kurang. Segala peristiwa yang berbau penindasan, saling bunuh, gila (harta, tahta, wanita) merupakan produk pendewaan materialisme. Soemitro memberi contoh bahwa sejarah Indonesia sangat akrab dengan kerusakan, baik kerusakan dari penjajah maupun bangsa sendiri. Kerusakan mudah dilakukan dalam waktu yang singkat, Sebaliknya membangun kembali akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan biaya yang amat mahal, serta korban jiwa yang tidak sedikit.
Menurut Soemitro, kehidupan manusia seperti hukum spiral, ada kalanya naik dan turun. Pada saat naik, kesadaran manusia diarahkan ke hadirat ilahi, Sebaliknya ketika mencapai titik bawah, kesadaran itu dicampakkan begitu saja. Setiap orang harus mengubah dirinya sendiri manakala ada keinginan mengubah masyarakat. Setiap orang hendaknya belajar sendiri dengan cara mengamati segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Dalam belajar, orang di samping berkonsentrasi, juga menaruh perhatian. Memang, konsentrasi menyebabkan manusia tidak melihat semuanya, sebaliknya jika manusia menaruh perhatian akan melihat banyak hal. Manusia akan menemukan kehiduoan religius yang sesungguhnya. Belajar sendiri juga  akan melahirkan pikiran yang luar biasa kritis dan sekaligus kebijaksanaan.
Masyarakat merupakan komponen pendidikan yang tidak boleh diabaikan karena mengisi jiwa dengan berbagai nilai yang berarti dalam hidup, misalnya, persaudaraan, perikemanusiaan, sopan santun, kebersamaan, gotong royong, dll.
Bagi Soemitro, belajar tidak selalu kepada para guru saja, melainkan juga para petani wong cilik  yang tinggal di pedesaaan. Manusia harus belajar dari siapa pun, bahkan kepada seorang buta huruf pun manusia dapat belajar. Pengalaman hidup tinggal di negeri Belanda, Jerman, Cekoslowakia, Perancis, Swedia, Russia, Latvia, Albania, dan Mesir telah mengisi jiwa Soemitro. Ia diterima dengan baik oleh masyarakat yang jauh di luar budaya dari mana ia berasal. Pertolongan dan bantuan diterima Soemitro tanpa disangka-sangka sebelumnya. Keadaan seperti itu membuat Soemitro seolah-olah hidup di negerinya sendiri dan tidak merasa asing. Tolong menolong merupakan kewajiban hidup seseorang. Soemitro selalu memgang ucapan Dr. dms. Albert Schweitzer dan Rabindranath Tagore sebagai berikut.
“Kalau saya dalam kesulitan hidupku ditolong dengan kerelaan hati oleh seorang lain, wajiblah seumur hidup ingat akan kebaikan itu. Kalau saya mendapat kesempatan untuk menolong orang lain yang berada dalam kesengsaraan, janganlah saya membicarakan jasaku itu, bahkan saya harus secepat mungkn melupakan perbuatanku itu. Mengapa? Sebab bantuan itu tidak lain tidak bukan suatu kewajiban hidup!”

Menjadi Anggota BPUPKI
Kehidupan Soemitro erat dengan Pergerakan Nasional dan kemerdekaan Indonesia. Ketika di Belanda, tahun 1908, ia adalah aktivis Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) atas dorongan Abendanon dan Casajangan[5], yang organisasi tersebut nantinya menjadi cikal bakal Perhimpunan Indonesia. Soemitro menjabat sebagai sekretaris di sana. Dengan kata lain, Soemitro adalah senior dari para mahasiswa pergerakan di belanda seperti Mohammad Hatta. Tak mengherankan, jika saat ia telah pulang dari Belanda dan akhirnya menjadi Bupati Banjarnegara, pada era kepemimpinannya pergerakan nasional di Banjarnegara berlangsung pesat, terutama pergerakan Syarikat Islam. Tercatat dua even besar Syarikat Islam berlangsung di Banjarnegara, yaitu pada tahun 1928 ketika menjadi tuan rumah kongres Sjarikat Islam Afdeling Pandoe (SIAP), dimana Haji Agus Salim memimpin kongres, dan pada tahun 1934 ketika kongres terakhir SI yang dihadiri HOS Tjokroaminoto berlangsung di Banjarnegara[6].
Tak mengherankan juga jika ketika akhir pendudukan Jepang, dibentuk Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan (BPUPK), Soemitro terpilih sebagai salah satu diantara 60 anggotanya[7]. Ia duduk dengan nomor kursi 40. Dalam sidang BPUPK tersebut, Soemitro juga memberikan saran agar proses kemerdekaan perlu diperjuangkan secepat mungkin[8]. Sejalan dengan pemikiran Sukarno yang tidak ingin njlimet dalam urusan pembahasan persiapan kemerdekaan Indonesia dalam pidato di rapat BPUPK, 1 Juni 1945. Soemitro dalam sidang BPUPKI menyatakan:
Pada waktu ini kita harus mengadakan usul yang praktis, yang nyata dapat dijalankan, selekas mungkin jangan kita mnta keadaan 100% yang tidak mungkin dilaksanakan dalam peperangan, sebab keadaan sehari-hari dipengaruhi oleh peperangan. Asal keadaan bisa berjalan, sedikit demi sedikit kita dapat menambah dengan 5%, 10%, 15%, lama-kelamaan tercapailah Indonesia Merdeka yang bulat[9].
Pada era transisi dari Jepang kepada Republik Indonesia, Soemitro berhasil melaluinya tanpa pergolakan berarti, sehingga tidak terjadi kekerasan sebagaimana yang terjadi di Peristiwa 3 Daerah (Brebes, Tegal dan Pemalang) dimana terjadi “perang saudara”. Ia juga turut melakukan gerilya ketika masa agresi militer I maupun II. Selepas merdeka seratus persen, Soemitro menjadi anggota DPR hasil Pemilu tahun 1955 mewakili Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia dari daerah pemilihan Jawa Tengah. Ia mengakhiri karirnya sebagai akademisi di Jurusan Sosial Politik Universitas Gadjah Mada.
Soemitro memperoleh tanda penghargaan: Satyalencana peringatan Perjuangan Kemerdekaan Nomor Skep 228 tahun 1961, Satyalencana Karya Satya Nomor 228 tahun 1961, dan Bintang Mahaputra Utama (Kepres Nomor: 048/TK/ Tahun 1992) tanggal 12 Agustus 1992.

II.             Sumber:

ANRI, AK Pringgodigdo Nomor: 5645. “Denah Tempat Duduk Anggota BPUPK

Amelz. 1952. “HOS Tjokroaminoto: Hidup dan Perdjuangannja”. Jakarta: Penerbit Bulan Bintang.
Poeze, Harry A. 1988.”Orang-Orang Indonesia di Universitas Leiden” dalam W.A.L. Stokhof dan N.J.G Kaptein. Beberapa Kajian Indonesia dan Islam. Jakarta: Indonesian Netherlands Cooperation in Islamic Studies.

Poeze, Harry A. 2008. “Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda, 1600-1950”. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Poseponegoro, Marwati Djoenoed. 2008. “Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI, edisi Pemutakhiran”. Jakarta: Balai Pustaka.

Priyadi, Sugeng. 1995. “Tedhakan Serat Babad Banyumas: Suntingan Teks, Terjemahan dan Fungsi Genealogi dalam Kerangka Struktur Naratif”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Priyadi, Sugeng. 2015. “Menuju Keemasan Banyumas” . Yogyakarta: SIP UMP dan Pustaka Pelajar.

Sekretariat Negara Republik Indonesia. 1995. “Risalah Sidang Badan penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia, 28 Mei 1945-22 Agustus 1945”. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.



[1] Priyadi, Sugeng. 1995. “Tedhakan Serat Babad Banyumas: Suntingan Teks, Terjemahan dan Fungsi Genealogi dalam Kerangka Struktur Naratif”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
[2] Poeze, Harry A. 1988.”Orang-Orang Indonesia di Universitas Leiden” dalam W.A.L. Stokhof dan N.J.G Kaptein. Beberapa Kajian Indonesia dan Islam. Jakarta: Indonesian Netherlands Cooperation in Islamic Studies.
[3] Priyadi, Sugeng. 2015. “Menuju Keemasan Banyumas” Yogyakarta: SIP UMP dan Pustaka Pelajar.
[4] Poeze, Harry A. 2008. “Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri belanda, 1600-1950. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
[5] Poeze, Harry A. 2008. “Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri belanda, 1600-1950. Jakarta: kepustakaan Populer Gramedia.
[6] Amelz. 1952. HOS Tjokroaminoto: Hidup dan Perdjuangannja. Jakarta: Penerbit Bulan Bintang.
[7] Poseponegoro, Marwati Djoenoed. 2008. “Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI, edisi Pemutakhiran”. Jakarta: Balai Pustaka.
[8] Sekretariat Negara Republik Indonesia. 1995. “Risalah Sidang Badan penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia, 28 Mei 1945-22 Agustus 1945”. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.
[9] ibid


Status: Bangunan sejarah bukan cagar budaya, tapi berpotensi menjadi cagar budaya. Belum Terregistrasi (Pihak Berwajib harap segera meregistrasikan)
Sanksi Pelanggaran Cagar Budaya
  1. Sanksi Dasar (untuk setiap orang)
    Pelaku kriminal dikenakan hukuman penjara minimal 3 bulan sampai maksimum 15 tahun, dengan denda uang minimal Rp 10.000.000,00 dan maksimum Rp 1.500.000.000,00. (pasal 101 – 112)
  2. Sanksi Tambahan (pasal 115)
    1. wajib mengembalikan cagar budaya kepada kondisi keasliannya, baik bahan, bentuk, tata letak, dan/atau teknologi pengerjaannya atas tanggungan sendiri;
    2. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana;
  3. Untuk badan usaha berbadan hukum dan/atau badan usaha bukan berbadan hukum dikenai tindakan pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha.
  4. Jika pejabat karena melakukan perbuatan pidana melanggar suatu kewajiban khusus dari jabatannya, atau pada waktu melakukan perbuatan pidana memakai kekuasaan, kesempatan, atau sarana yang diberikan kepadanya karena jabatannya terkait dengan pelestarian cagar budaya, pidananya dapat ditambah 1/3 (sepertiga). (pasal 114)

0 komentar:

Posting Komentar

Contact

Hubungi Kami

kami sangat mengapresiasi segala kontribusi anda dalam Sejarah dan Kebudayaan Banjarnegara, Bergabunglah bersama kami untuk mengangkat Kebudayaan Banjarnegara agar dikenal oleh masyarakat luas

Alamat:

Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia

Jam Kerja:

setiap saat kami ada

E-mail:

cbudayabanjar@gmail.com