Jumat, 30 Maret 2018

Sejarah Dawet Ayu

Mbah Munarjo ketika masih hidup

Sejarah Dawet Ayu
Bagi sebagian besar masyarakat, terutama para pecinta kuliner, minuman Dawet Ayu tentu tidaklah asing lagi di telinga. Dawet Ayu bahkan telah dinobatkan sebagai salah satu kuliner nusantara oleh Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif Republik Indonesia beberapa tahun lalu. Dawet Ayu juga telah berdiaspora ke seluruh nusantara. Namun, jarang yang tahu sejarahnya, bahkan masyarakat Banjarnegara pun tidak semuanya mengetahui, sehingga kini bahkan Dawet Ayu dijadikan sebagai Muatan Lokal mata pelajaran pada jenjang Sekolah Dasar (SD), agar generasi mendatang tidak melupakan sejarah Dawet Ayu.
Dawet Ayu, sebagaimana yang dikisahkan oleh si empunya yang mempopulerkan Dawet Ayu, Nyonya Munarjo, warga Kelurahan Rejasa  Kecamatan Madukara Kabupaten Banjarnegara, menyatakan bahwa tadinya tidak ada istilah atau nama Dawet Ayu. “Senien nggih wontene dawet” (Dulu ya adanya dawet) ujar Munarjo yang bernama asli Marfuah. Kisah bermula ketika kelompok lawak Peyang Penjol Banyumas manggung di Banjarnegara, mereka mendapati dagangan Dawet Ayu tidak dijual oleh pedagang pria, sebagaimana lazimnya.
Pada awalnya, dawet memang hanya dijajakan dengan cara dipikul oleh laki-laki, menyusuri pematang sawah dan juga jalanan pedesaan, terutama saat panen padi tiba. Ketika itu, bahkan dawet sering kali dibarter dengan gabah/ padi hasil panen para petani yang sedang memanen padinya di sawah. Wajar jika hanya kaum Adam saja yang mampu melakoni pekerjaan berdagang dawet ini.
Munarjo mendobrak kebiasaan berjualan dawet dengan cara dipikul ketika pada tahun 1950-an dawetnya ditunggui (mangkal) di sebuah kios di depan Losmen Setia Jalan Veteran Banjarnegara. Istrinyalah yang diminta untuk menunggui bersamanya berjualan dawet. Karena yang menunggui perempuan, maka kelompok lawak Peyang Penjol yang ketika itu mampir ke warung Munarjo kemudian berujar “Panetes, wong sing dodol ayu, ya dejenengi bae Dawet Ayu” (Pantas karena yang berjualan cantik, ya dinamai saja Dawet Ayu) kenang Munarjo. Peyang Penjol kemudian bahkan menciptakan lagu Dawet Ayu dan dinyanyikan disela-sela pentas-pentas lawakan mereka. dari hal tersebut, Dawet Ayu ternyata mampu menjadi pemantik perubahan sosial, dari biasanya dijual secara monopoli oleh laki-laki, kemudian berubah dengan adanya keterlibatan perempuan, bahkan kini justru kebanyakan dijual oleh perempuan.
Munarjo sendiri awalnya tidak tahu kalau nama Dawet Ayu dipopulerkan oleh grup lawak Peyang Penjol. “Kulo malah nembe ngertos mbarang mireng teng kaset, wonten lagu Dawet Ayu” (Saya malah baru tahu ketika mendengar di kaset, ada lagu Dawet Ayu) kata Munarjo. Sejak saat itulah Dawet Ayu milik Munarjo terkenal di seantero Banyumas Raya. Awalnya Dawet Ayu ditenarkan oleh grup lawak Peyang Penjol yang dalam setiap pentasnya sering menyanyikan lagu Dawet Ayu. Demikian juga para dalang wayang, juga melalui sindennya sering mendendangkan pula lagu Dawet Ayu.
Kini Munarjo sudah kepala delapan. Tentunya jauh dari kata ayu lagi. Namun karyanya berupa Dawet Ayu, telah mempercantik namanya hingga dikenal dimana-mana. Bahkan ketika pada tahun 1960-an Presiden Soekarno berkunjung ke Banjarnegara untuk meninjau bendungan Bandjar Tjahjana Werken (BTW), beliau juga sempat mencicipi Dawet Ayu. Sayangnya kini hampir semua penjual dawet se nusantara mengklaim bahwa mereka menjajakan Dawet Ayu asli Banjarnegara. Memang, kebanyakan mereka berasal dari Kabupaten Banjarnegara. Padahal, Munarjo merasa tidak pernah memberikan lisensi mengenai Dawet Ayu-nya, dan tentu saja tak pernah pula mendapatkan royalti dari kekayaan intelektualnya dari penggunaan nama Dawet Ayu. Ia dan keluarga hanya berharap para pedagang mampu menjaga kualitas rasa dari Dawet Ayu, agar rasanya tetap enak.
Makna simbolik Semar Gareng
Mengenai keberadaan tokoh Semar Gareng dalam gerobak Dawet Ayu, ternyata memiliki makna simbolis yang dalam. Semar dan Gareng dapat disingkat kata belekang Semar, yaitu Mar, dan Gareng yaitu Reng. Sehingga jika digabungkan akan menjadi Mareng. Maka tak boleh keliru tempat memasangnya. Mareng disatu sisi dalam bahasa Jawa, berarti situasi kemarau, yang secara otomatis membuat orang akan memburu Dawet Ayu sebagai pelepas dahaga. Dan mareng di sisi yang lain dalam bahasa Jawa juga dapat diartikan datang, atau para penjual Dawet Ayu berharap pembeli berbondong-bondong mendatangi penjual Dawet Ayu.
Ada pula makna lainnya, yaitu mengambil kata depan dua tokoh punakawan tadi, yaitu Se, dan Gar. Yang jika digabungkan, maka menjadi kata Segar. Ya, Dawet Ayu Banjarnegara tak hanya Ayu dari segi rasa, namun juga segar.
------------------------------------------------------------- 
Dawet Ayu, as told by the owner who popularized Dawet Ayu, Mrs. Munarjo, a resident of Kelurahan Rejasa Madukara Sub-district, Banjarnegara District, stated that there was no term or name of Dawet Ayu. "Senien nggih wontene dawet" (Previously yes dawet) said Munarjo whose real name is Marfuah. The story begins when the Peyang Banyumas guerrilla group gigs in Banjarnegara, they find that the merchandise of Dawet Ayu is not sold by male traders, as is usual.
At first, dawet is only sold by the way shouldered by men, along the rice field bunds and also rural roads, especially when the rice harvest arrives. At that time, even dawet often bartered with grain / rice crops of farmers who are harvesting rice in the fields. Naturally if only the Adam who can melakoni this dawet trading job.

Munarjo broke the habit of selling dawet by the way borne when in the 1950s dawetnya ditunggui (mangkal) in a kiosk in front of the Inneria Jalan Veteran Banjarnegara. His wife was asked to wait with him to sell dawet. Due to those who waited for women, the group of Peyang Polls who then stopped by Munarjo stall and said "Panetes, wong sing dodol ayu, yes dejenengi bae Dawet Ayu" (No wonder because it sells pretty, just named Dawet Ayu) recalls Munarjo. Peyang Penjol then even created a song Dawet Ayu and sung on the sidelines of their gigantic performances. from that matter, Dawet Ayu turned out to be a lighter of social change, than usually sold in monopoly by men, then changed with the involvement of women, even now it is mostly sold by women.

Munarjo himself initially did not know that the name of Dawet Ayu was popularized by the group of Peyang Penjol. "Kulo nembe ngertos mbarang mireng teng tape, wonten lagu Dawet Ayu" (I even just know when heard on the cassette, there is a song Dawet Ayu) said Munarjo. Since then, Dawet Ayu belonging to Munarjo is well known throughout Banyumas Raya. Initially Dawet Ayu was confirmed by a group of Peyang Penjol Prayers who in each stage often sing the song Dawet Ayu. Similarly, puppeteer puppeteers, also through sindennya often also sing a song Dawet Ayu.

Munarjo is now head eight. Surely far from the word ayu again. But his work in the form of Dawet Ayu, has beautify his name to be known everywhere. Even when in the 1960s President Soekarno visited Banjarnegara to review the Tjahjana Werken (BTW) Bandjar dam, he also had a chance to taste Dawet Ayu. Unfortunately now almost all sellers dawet se nusantara claim that they peddle the original Dawet Ayu Banjarnegara. Indeed, most of them come from Banjarnegara District. In fact, Munarjo felt he had never given a license on his Dawet Ayu, and certainly never got royalties from his intellectual property from the use of Dawet Ayu's name. He and his family just hope the merchants are able to maintain the taste quality of 



Heni Purwono, S.Pd. M.Pd.
NIP 19841005 201001 1 022

Status: Monumen Dawet Ayu, bukan cagar budaya namun potensial menjadi cagar budaya. (Pihak Berwajib harap segera meregistrasikan)
Sanksi Pelanggaran Cagar Budaya
  1. Sanksi Dasar (untuk setiap orang)
    Pelaku kriminal dikenakan hukuman penjara minimal 3 bulan sampai maksimum 15 tahun, dengan denda uang minimal Rp 10.000.000,00 dan maksimum Rp 1.500.000.000,00. (pasal 101 – 112)
  2. Sanksi Tambahan (pasal 115)
    1. wajib mengembalikan cagar budaya kepada kondisi keasliannya, baik bahan, bentuk, tata letak, dan/atau teknologi pengerjaannya atas tanggungan sendiri;
    2. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana;
  3. Untuk badan usaha berbadan hukum dan/atau badan usaha bukan berbadan hukum dikenai tindakan pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha.
  4. Jika pejabat karena melakukan perbuatan pidana melanggar suatu kewajiban khusus dari jabatannya, atau pada waktu melakukan perbuatan pidana memakai kekuasaan, kesempatan, atau sarana yang diberikan kepadanya karena jabatannya terkait dengan pelestarian cagar budaya, pidananya dapat ditambah 1/3 (sepertiga). (pasal 114)

0 komentar:

Posting Komentar

Contact

Hubungi Kami

kami sangat mengapresiasi segala kontribusi anda dalam Sejarah dan Kebudayaan Banjarnegara, Bergabunglah bersama kami untuk mengangkat Kebudayaan Banjarnegara agar dikenal oleh masyarakat luas

Alamat:

Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia

Jam Kerja:

setiap saat kami ada

E-mail:

cbudayabanjar@gmail.com