Kami Disini Peduli Dengan Sejarah dan Budaya Banjarnegara

Komunitas Sejarah dan Budaya yang mengupas tuntas sejarah peristiwa, benda dan bangunan cagar budaya Banjarnegara.

Mulai Dari Sini

Apa yang Kami Ulas?

Peristiwa

merupakan kejadian atau fakta yang pernah terjadi di Banjarnegara dan menjadi sumber data sejarah Kabupaten Banjarnegara

Read More

Bangunan

Bangunan bersejarah merupakan suatu bukti adanya aktivitas manusia (sejarah) yang menjadi indikator untuk melihat perkembangan sejarah di Banjarnegara

Read More

Kebudayaan

Kebudayaan adalah sesuatu yang di wariskan secara turun-temurun dan memiliki nilai yang luhur , di Banjarnegara kebudayaan dapat ditemui di segala sudut.

Read More

Event

Kami rutin mengadakan event dalam mengenalkan sejarah Banjarnegara pada masyarakat. Follow IG @cagarbudaya_ untuk Update terkini.

Read More

Sejarah Banjarnegara

Kamis, 08 November 2018

Peringati Hari Pahlawan, Siswa SMAN 1 Sigaluh Bersihkan Monumen Bandingan

Peringati Hari Pahlawan, Siswa SMAN 1 Sigaluh Bersihkan Monumen Bandingan


Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, SMA Negeri 1 Sigaluh melaksanakan kegiatan bersih monumen perjuangan di Desa Bandingan Kecamatan Sigaluh, Kamis (8/11).

Puluhan siswa pengurus OSIS dan MPK SMAN 1 Sigaluh, didampingi guru, tentara dari Koramil Sigaluh dan juga perangkat Desa Bandingan bahu membahu membersihkan monumen yang sudah dipenuhi rumput ilalang dan juga sampah dedaunan.



Kaur Umum Pemerintah Desa Bandingan Trimo Santoso sangat mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, pembersihan monumen Bandingan sangat tepat sebagai momen memperingati Hari Pahlawan. "Kami sangat berterimakasih karena siswa SMAN 1 Sigaluh peduli dengan tempat bersejarah yang ada di desa kami. Semoga kepedulian ini akan meningkatkan jiwa nasionalisme siswa" ujar Trimo.

Kenalkan Sejarah Lokal

Guru sejarah SMA Negeri 1 Sigaluh yang mendampingi siswa dalam kegiatan tersebut mengungkapkan, kegiatan bersih monumen seperti ini dapat dijadikan sebagai ajang guru sejarah untuk mengenalkan sejarah lokal. Karena siswa sering kali ketika belajar sejarah merasa apa yang dipelajarinya abstrak dan jauh dari kehidupan nyatanya saat ini. "Perjuangan masa perang kemerdekaan kan hampir merata di seluruh wilayah. Beberapa juga sudah dibuatkan monumennya. Hal itu merupakan kesempatan bagi guru sejarah untuk belajar sejarah secara langsung di lapangan sehingga siswa merasa dekat dengan peristiwa sejarah yang selama ini kebanyakan dipelajari dari buku" jelas Heni.

Di monumen Bandingan ini, tambah Heni, siswa dapat dikenalkan dengan pahlawan Letda Makhlani yang bersama pasukan Gembong Singo Yudho, menghadang konvoi pasukan Belanda NICA pada 6 Februari 1949. "Penghadangan itu menewaskan satu orang opsir beserta empat pengawalnya, dan juga mengakibatkan tiga kendaraan rusak berat. Itu menunjukkan bahwa perjuangan di level lokal tidak kalah penting perannya dalam mempertahankan kemerdekaan" jelas Heni.

Para pelajar akan semakin bangga manakala memahami bahwa pasukan Belanda yang dihadapi para pejuang adalah pemenang Perang Dunia ke 2, padahal para pejuang menghadapinya hanya dengan senjata rampasan Jepang, bambu runcing dan senjata tajam lain seadanya, pungkas Heni.

Senin, 05 November 2018

Pekan Kepahlawanan, Guru dan Siswa Kenakan Pita Merah Putih

Pekan Kepahlawanan, Guru dan Siswa Kenakan Pita Merah Putih

Dalam rangka Pekan Kepahlawanan SMAN 1 Sigaluh, guru dan siswa mengenakan pita merah putih di lengan kanan baju sebagai tanda dimulainya kegiatan, Senin (5/11). Penyematan pita tersebut mengawali kegiatan yang nantinya akan dirangkai dengan bersih monumen Bandingan, lomba pidato Bung Tomo, lomba mirip pahlawan, lomba puitisasi pahlawan dan lomba lagu perjuangan dengan musik atonal.

Kepala SMAN 1 Sigaluh Imam Raharjo mengungkapkan, kegiatan memperingati hari pahlawan sudah sejak 2011 dilaksanakan dengan berbagai kegiatan kreatif. "Pernah kita lombakan cipta lagu perjuangan, dan juga fotografi monumen perjuangan. Kali ini yang baru adalah lomba lagu perjuangan dengan musik atonal" kata Imam.

Musik atonal, jelas Imam, adalah musik tanpa nada dengan memanfaatkan alat apapun, yang penting dapat mengeluarkan bunyi, yang ada disekitarnya. "Maknanya, kita ingin para siswa merasakan bagaimana dahulu para pejuang berperang dengan alat seadanya, namun mereka tetap pantang menyerah mengusir penjajah" tambahnya.

Adapun koordinator kegiatan Pekan Kepahlawanan SMAN 1 Sigaluh Heni Purwono mengungkapkan bahwa untuk lomba mirip pahlawan dan juga pidato Bung Tomo, sudah beberapa kali dilaksanakan. "Untuk pidato Bung Tomo, siswa harus menghafalkan cukup panjang. Selain itu, dalam berorasi akan dinilai intonasi dan juga kostum yang dikenakan. Intinya kita ingin Bung Tomo seakan hidup lagi menyemangati generasi saat ini" jelas Heni.

Adapun puncak acara, akan dilaksanakan kegiatan upacara Hari Pahlawan pada 10 November memdatang, dan juga bersih monumen Bandingan, yang merupakan monumen penghadangan tentara Sekutu dan NICA oleh para pejuang lokal Banjarnegara.


Minggu, 28 Oktober 2018

Ratusan Pelajar Sumpah Menjaga Cagar Budaya

Ratusan Pelajar Sumpah Menjaga Cagar Budaya


Ada yang berbeda dari peringatan Hari Sumpah Pemuda yang dilakukan oleh para peserta Napak Tilas Sejarah dan Cagar Budaya, Minggu (28/10) di Kota Lama Klampok Banjarnegara. Di akhir sesi diskusi, selain mengikrarkan Sumpah Pemuda, dipimpin oleh salah satu peserta, mereka juga mengikrarkan Sumpah Pelestarian Cagar Budaya Banjarnegara. “Kami putera dan puteri Banjarnegara bersumpah, akan mengunjungi, melindungi dan melestarikan semua cagar budaya yang ada di Banjarnegara” begitu ikrar yang dibacakan oleh Febrian Yudhatama, yang ditirukan oleh ratusan peserta.



Ketua Umum Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) Heni Purwono sebagai inisiator kegiatan mengungkapkan sumpah tersebut muncul sebagai reaksi terhadap keberadaan cagar budaya yang belum terlindungi sepenuhnya di Banjarnegara. “Kami tadi melihat bagaimana sisa pabrik gula Klampok yang begitu megah pada zamannya, dan itu ada arsip fotonya di laman KITLV, Gahetna maupun Tropen Museum Belanda, namun kini tidak lebih hanya tersisa satu pintu utama beberapa petak ruangan dan pagar kelilingnya. Itu sangat memprihatinkan, sehingga kita berharap dengan sumpah tersebut mendorong kepedulian bersama terhadap cagar budaya” terang Heni.

Sebelumnya, para peserta terlebih dahulu menapak tilas cagar budaya yang ada di sekitar kota lama Klampok seperti bekas pabrik gula yang berada di belakang aula Balai Latihan kerja (BLK) Klampok, mengitari pagar keliling pabrik gula, melihat-lihat kantor kecamatan, kantor pos, SD Negeri 1 Klampok dan berakhir di komplek perumahan dinas BKL Klampok. Semua objek tersebut tentu berkaitan dengan keberadaan pabrik gula Klampok yang mengalami puncak kejayaan antara tahun 1912 hingga tutup pada tahun 1930 karena krisis ekonomi global.

Penyidik Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Deny Wahju Hidajat yang hadir dalam kegiatan tersebut mengungkapkan, pelestarian cagar budaya memang menjadi tanggungjawab bersama antara masyarakat dan pemerintah. “Masyarakat justru menjadi garda terdepan dalam pelestarian cagar budaya mengingat keterbatasan BPCB. Kasus-kasus yang kami tangani terkait pencurian maupun perusakan cagar budaya, rata-rata berawal dari laporan masyarakat. Karenanya bagus jika masyarakat memiliki kepedulian yang tinggi terhadap cagar budaya” ujar Deny.

Masyarakat Benteng Utama Pelestarian Cagar Budaya

Masyarakat Benteng Utama Pelestarian Cagar Budaya

Ratusan siswa SLTA se Banjarnegara, Minggu (28/10), bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda mengikuti kegiatan Napak Tilas Sejarah dan Cagar Budaya Kota Lama Klampok. Kegiatan yang dihelat oleh Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) bekerjasama dengan Direktorat Sejarah Ditjend Kebudayaan Kemdikbud itu, merupakan bagian dari 4 Even Sejarah Banjarnegara. Para peserta diajak menapak tilas kejayaan pabrik gula Klampok yang beroperasi antara tahun 1912 hingga 1939.



Dipandu oleh pegiata cagar budaya dari Banyumas Heritage Gritje Gregory Hadiwono, para peserta diajak "blusukan" menelusuri sisa-sisa bangunan pabrik gula yang saat ini telah beralih fungsi menjadi Balai Latihan Kerja Provinsi, menelusuri kantor-kantor pemerintahan, sekolah serta perumahan pegawai pabrik gula diera kolonial.

Setelahnya, para peserta diajak berdiskusi tentang upaya pelestarian cagar budaya. Penyidik Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Deny Wahju Hidajat mengungkapkan, masyarakat dalam hal ini diwakili oleh komunitas sejarah, berperan vital dalam pelestarian cagar budaya. "Kita di BPCB karena terbatas jumlah dan cakupannya, tidak bisa berbuat apa-apa jika tidak didukung masyarakat. Karena sejatinya masyarakat adalah benteng utama pelestarian cagar budaya. Karena sehari-hari merekalah yang ada di sekitar cagar budaya" ujar Deny.

Wakil Bupati Banjarnegara yang hadir melepas peserta napak tilas berharap, generasi muda harus menjadi ujung tombak pelestarian cagar budaya. "Pembangunan masa kini tidak berarti apa-apa manakala abai terhadap nilai-nilai sejarah di masa lampau. Kegiatan seperti ini harus kongkrit mewujudkan masyarakat yang benar-benar sadar akan pentingnya sejarah" ujar Wabup.

Senada dengan hal itu, Ketua Umum YSMI Heni Purwono juga berharap para peserta napak tilas menjadi pionir pelestarian cagar budaya. "Kita memiliki peninggalan sejarah dan cagar budaya yang lengkap mewakili era klasik Hindu Budha, Islam, Kolonial, Pergerakan Nasional hingga era kemerdekaan. Sayangnya pelestarian terhafap hal itu belum optimal" kata Heni.

Hal itu, tambahnya, dibuktikan dengan belum adanya Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dan juga Perda mengenai cagar budaya. "Diharapkan dengan kegiatan ini para pemangku kepentingan terdorong untuk merealisasikannya" harap Heni.

Salah satu peserta napak tilas, Sarmono, mahasiswa Politeknik Banjarnegara, mengaku takjup dengan peninggalan pabrik gula dan kawasan perumahan di kota lama Klampok. "Baru kali ini saya melihat, ternyata sangat bagus. Sayang sekali bangunan utama pabrik gula tinggal sedikit sekali yang tersisa" katanya.

Kamis, 25 Oktober 2018

Dorong Perlindungan Cagar Budaya, Kemdikbud dan YSMI Gelar Napak Tilas

Dorong Perlindungan Cagar Budaya, Kemdikbud dan YSMI Gelar Napak Tilas

Guna mendorong Pemkab Banjarnegara untuk segera membuat Peraturan Daerah tentang Perlindungan Cagar Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui Direktorat Sejarah Ditjen Kebudayaan bekerjasama dengan Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI), Minggu (28/10) akan menggelar kegiatan Napak Tilas Sejarah dan Cagar Budaya Kota Lama Klampok.

Minggu, 30 September 2018

Menumbuhkan Kesadaran Sejarah Melalui Film

Menumbuhkan Kesadaran Sejarah Melalui Film


Beragam cara dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran sejarah generasi muda. Salah satunya melalui pemutaran film sejarah. Hal itulah yang dilakukan oleh Yayasan Sahabat Muda Indonesia bekerjasama dengan Direktorat Sejarah Kemdikbud RI, Jumat (28/9) di GOR SMPIT Permata Hati Banjarnegara.


Dua film sejarah diputar dalam kegiatan tersebut, yaitu film berjudul "Tugu Peringatan" karya Fiki Lailatul Azizah dan "Kartini: Wanita Terpilih" karya Bambang Hengky. Ratusan pelajar dan sineas muda pun larut menyaksikan tontonan tersebut.

Ketua Yayasan Sahabat Muda Indonesia Heni Purwono mengungkapkan kegiatan tersebut merupakan bagian dari kegiatan 4 Even Sejarah Banjarnegara yang difasilitasi oleh Direktorat Sejarah Kemdikbud RI. "Kita ingin kesadaran sejarah masyarakat tumbuh dari pemutaran film ini. Melalui film Tugu Peringatan, kita ingin masyarakat sadar betul akan potensi bahaya bencana tanah longsor di Banjarnegara yang sudah berkali-kali terjadi dengan jumlah korban yang tidak sedikit. Jika tidak disadarkan terus menerus, termasuk melalui media film sejarah, masyarakat mudah lupa dan ketika bencana alam berulang, lagi-lagi jatuh banyak korban jiwa" terang Heni.

Film Tugu Peringatan sendiri berkisah tentang bencana tanah longsor yang terjadi di Dusun Legetang, Desa Pekasiran, Kecamatan Batur pada tahun 1955, dan memakan korban lebih dari 300 jiwa.

Tanah bekas longsoran itu, tambah Heni, saat ini justru mulai lagi ditanami oleh warga sekitar. "Seakan mereka lupa jika daerah itu masih menyimpan bahaya longsor. Melalui film inilah kita mencoba menyadarkan kembali masyarakat. Jangan sampai bencana longsor seperti yang terjadi di Dusun Legetang, Dusun Sijeruk dan Dusun Jemblung berulang memakan korban jiwa" kata Heni.

Adapun film Kartini: Wanita Terpilih, merupakan film panjang bergenre doku drama yang bercerita tentang RA Kartini, pahlawan emansipasi wanita. Sutradara film tersebut Bambang Hengky yang hadir langsung membedah film tersebut mengungkapkan bahwa film ini merupakan film kedua bertema Kartini, setelah Suman Jaya membuatnya di tahun 70-an. "Kelebihan film ini, kita memakai setting dan juga pemain dari Jepara seluruhnya. Kita ingin membuat film tema sejarah lokal, dengan pemain lokal pula. Hasilnya ternyata lebih terasa mendalam dan menjiwai" kata Bambang.

Ia berharap film ini mampu menginspirasi generasi muda pembuat film saat ini, untuk dapat mengekaplorasi sejarah di lingkungannya, dan mengoptimalkan sumber daya lokal yang ada. "Saya melihat Banjarnegara penuh potensi sejarah yang belum banyak diangkat menjadi film. Ini peluang yang jika dimanfaatkan dengan baik, akan menghasilkan karya film sejarah yang orisinil dan memikat. Saya harap film saya ini bisa menginspirasi penonton yang rata-rata anak muda pembuat film" harap Bambang.

Kamis, 06 September 2018

DPRD Ajukan Raperda Perubahan Hari Jadi

DPRD Ajukan Raperda Perubahan Hari Jadi


DPDR Kabupaten Banjarnegara tahun ini mengajukan Raperda inisiatif tentang Perubahan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara. Karenanya, Kamis (6/9), diadakan FGD di Ruang Sidang Badan Anggaran DPRD Kabupaten Banjarnegara.


Hadir dalam kegiatan tersebut selain anggota DPRD juga dari budayawan, OPD terkait dan juga sejarawan. Salah satu anggota DPRD Kabupaten Banjarnegara Badrusalam mengungkapkan Raperda tersebut mempertimbangkan aspirasi masyarakat yang mempolemikan tanggal 22 Agustus 1831 sebagai hari jadi Banjarnegara.

"Hari jadi yang saat ini ada dianggap kurang menumbuhkan rasa nasionalisme karena 22 Agustus 1831 merupakan penetapan Dipayudha IV oleh pemerintah Kolonial Belanda" ujar Badrusalam.

Padahal, tambah Badrusalam, Dipayudha IV merupakan tokoh yang ikut melawan Diponegoro. Dan pemindahan ibu kota kabupaten dari Banjar Kulon ke Banjarnegara yang sekarang juga bermuatan politis, agar pendukung Diponegoro terpinggirkan.

Ketua MGMP Sejarah SMA Kabupaten Banjarnegara yang menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut mengungkapkan, sejarah hari jadi bukan sekadar hari dan tanggal penetapan sebuah wilayah. "Hari jadi itu mustinya memuat spirit nasionalisme dan patriotisme. Karena sejarah intinya ada pada nilai. Sehingga jika kita memperingati hari jadi namun nilai nasionalisme dan patriotismenya tidak ada, maka tidak ada nilai sejarah dalam peringatan itu" jelas Heni.

Tindak lanjut dari FGD ini, akan dikaji dan diulas kembali oleh pihak-pihak yang berkompeten untuk meneliti sejarah hari jadi yang lebih tepat. Budayawan Banjarnegara Otong Cundoroso mengemukakan bahwa hasil FGD sementara mengerucut pada saat Mangunyudho Seda Loji memerintah atau gugur di Surakarta. "Sepertinya itu hal paling heroik dan masyarakat juga sangat mengidolakan Mangunyudho" kata Otong.

Jurusan Sejarah Unnes MoM dengan MGMP Sejarah Banjarnegara

Jurusan Sejarah Unnes MoM dengan MGMP Sejarah Banjarnegara

Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes) menjalin kerjasama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah SMA Kabupaten Banjarnegara dalam hal pembuatan media pembelajaran sejarah, Kamis (6/9) di SMAN 1 Bawang Banjarnegara.

Rabu, 15 Agustus 2018

Generasi Muda Terkesima Foto-Foto Lama

Generasi Muda Terkesima Foto-Foto Lama

Ada yang menarik pada gelaran Pameran Arsip dan Buku Kabupaten Banjarnegara yang berakhir pada Rabu (15/8), di Gedung Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Banjarnegara. Di sana, pengunjung disuguhi puluhan foto lama Banjarnegara yang dipajang di ruang pamer. Tampak terpajang foto pabrik gula Klampok, jembatan-jembatan gantung dan juga bangunan irigasi yang dibangun pada era kolonial Belanda.

Rabu, 11 Juli 2018

Ratusan Warga Banjarmangu Nonton Layar Tancleb

Ratusan Warga Banjarmangu Nonton Layar Tancleb

Menyemarakkan gelaran festival film terbesar se Banyumas Raya Festival Film Purbalingga 2018, Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) bekerjasama dengan Cinema Lovers Comunity (CLC) Purbalingga menggelar kegiatan pemutaran film Layar Tancleb, Rabu (11/7) malam.

Rabu, 30 Mei 2018

Pameran Banjarnegara Old and New

Pameran Banjarnegara Old and New

 PAMERAN FOTO : Sejumlah siswa tampak asyik melihat foto yang dipamerka di Perpusda Banjarnegara. 

BANJARNEGARA – Peran tokoh di Banjarnegara dalam pergerakan kemerdekaan tidak bisa di anggap remeh. Di kota kecil ini, sejumlah tokoh pergerakan nasional lahir dan dibesarkan. Dosen Jurusan Sejarah Unnes Tsabit Azinar Ahmad menyebut sejumlah tokoh pergerakan nasional juga dilahirkan dan tumbuh berkembang di Banjarnegara.

Diantaranya anggota BPUPKI Sumitro Kolopaking, Sekjen Masyumipada Pemilu 1955 Taufiqurohman yang selain menjadi Sekjen Masyumi di Pemilu 1955 sekaligus anggota Dewan Konstituante.

 “Ini menunjukkan Banjarnegara pantas jika disebut sebagai kota pergerakan nasional,” jelasnya saat Bedah Buku Sejarah Syarikat Islam Banjarnegara di Sasana AdiGuna Setda Banjarnegara, Minggu (27/5). Buku tersebut merupakan karyanya. Selain bedah buku, juga dilaksanakan Diskusi Banjarnegara Kota Kebangkitan Nasional serta Pameran Foto Banjarnegara Old and New. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) bekerjasama dengan Direktorat Sejarah Kemdikbud.

Ketua YSMI Heni Purwono berharap even ini mampu menumbuhkan kesadaran sejarah warga Banjarnegara. Menurut dia, Banjarnegara menyimpan peninggalan sejarah dari zaman klasik Hindu Buda, Islam, kolonial hingga kontemporer yang cukup lengkap. “Masyarakat harus memiliki kesadaran sejarah agar sejarah Banjarnegara tidak hilang dimakan zaman” ungkap Heni.

Copyright © Radarbanyumas.co.id

Komunitas Cagar Budaya Gelar Napak Tilas

Komunitas Cagar Budaya Gelar Napak Tilas

Napak Tilas di Stasiun Lama Banjarnegara

SuaraMerdeka.com Banjarnegara. Sekelompok anak muda yang didominasi para pelajar tingkat SLTA tergerak untuk makin mengenal berbagai benda cagar budaya di Banjarnegara dengan membentuk Komunitas Cagar Budaya.

‘’Awalnya dari obrolan beberapa teman untuk lebih mengenal sejarah lokal, sehingga dibentuk komunitas itu. Kegiatan awalnya yakni menggelar napak tilas cagar budaya ini,’’ kata Koordinator Acara Mujib Nur Wahid, di sela-sela persiapan pelaksanaan Napak Tilas Cagar Budaya Banjarnegara, kemarin.

Kegiatan perdana itu dimulai dari halaman kantor pos kota, kemudian menuju ke gedung SMA/SMK Cokroaminoto yang berada di seberang kantor pos. Di lokasi tersebut, guru Sejarah SLTA yang menjadi pembina Komunitas Cagar Budaya, Heni Purwono, menjelaskan, keberadaan prasasti Pandu yang ada di kompleks sekolah itu.

Kandungan Makna

Prasasti itu menjelaskan, kata Pandu, yang bermakna menunjuk ke arah yang baik kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain, diucapkan oleh yang utama H Agus Salim pada Kongres Pertama Syarikat Islam Afdeling Pandu (SIAP) tanggal 9 April 1928. Heni menjelaskan, ada sejumlah tokoh asal Banjarnegara yang menasional pada zaman pergerakan dan upaya kemerdekaan.

Karena itu, anak-anak muda perlu tahu hal tersebut sehingga memahami bahwa dari kota kecil Banjarnegara sejak dahulu sudah lahir tokoh-tokoh nasional. Perjalanan kemudian dilanjutkan hingga ke stasiun kereta api Banjarnegara yang berada di Kelurahan Semarang Kidul. Sepanjang perjalanan, para peserta saling berdiskusi dan tukar informasi mengenai aspek sejarah berbagai lokasi yang dikunjunginya.

‘’Sebenarnya ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan rembuk budaya beberapa waktu lalu. Kami ingin anak muda dan masyarakat Banjarnegara serta pemerintah daerah peduli terhadap upaya pelestarian cagar budaya,’’ kata Heni Purwono. Pemkab bisa berperan dengan melakukan pendataan dan registrasi cagar budaya. Selanjutnya melaksanakan sosialisasi, sehingga masyarakat makin tahu dan timbul rasa memiliki serta melestarikan.

Kamis, 24 Mei 2018

Pokok Pikiran Kebudayaan Banjarnegara Mulai Dibahas

Pokok Pikiran Kebudayaan Banjarnegara Mulai Dibahas

Menjelang dilaksanakannya Kongres Kebudayaan Nasional pada Oktober mendatang, Pemkab Banjarnegara melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mulai melakukan perumusan Pokok Pikiran Kebudayaan, Kamis (24/5).

Jumat, 30 Maret 2018

Sejarah Stasiun SDS Banjarnegara

Sejarah Stasiun SDS Banjarnegara

Aktifitas di Stasiun SDS 

Serajoedal Stoomtram Maatschappij, disingkat sebagai SDS atau SDSM, yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai "Perusahaan Kereta Uap Lembah Serayu", adalah sebuah perusahaan kereta api yang melintasi lembah Serayu dan menghubungkan kota-kota Maos, Patikraja, Purwokerto, Sokaraja, Purbalingga, Klampok, Mandiraja, Banjarnegara, sampai Wonosobo. Pembangunan jalur ini tidak dibangun secara bersamaan tetapi dalam tiga tahap. Pembangunan jalur SDS menelan biaya sebesar 1.500.000 Gulden yang dibiayai oleh perusahaan pembiayaan Financiele Maaatscappij van Nijverheidsondernemingen in Ned. Indies dan proyek ini dipimpin oleh Ir. C. Groll. 
Jalur kereta ini dibangun atas dasar kepentingan ekonomi Belanda, dengan memberikan fasilitas transortasi yang cepat dan murah untuk perusahaan-perusahaan pemerintah Belanda, khususnya perusahaan perkebunan gula.
Sekarang, jalur eks-SDS ini sudah ditutup pada tahun 1978 dan 1980. Namun, aset yang dahulu dimiliki SDS dan sekarang dimiliki oleh PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 5 Purwokerto sejak 2006 yang sebelumnya dimiliki oleh Departemen Perhubungan RI antara tahun 1980-an sampai otonomi daerah pada 2001 dan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah antara tahun 2001 sampai 2006.
Status: Belum Terregistrasi (Pihak Berwajib harap segera meregistrasikan)
Sanksi Pelanggaran Cagar Budaya
  1. Sanksi Dasar (untuk setiap orang)
    Pelaku kriminal dikenakan hukuman penjara minimal 3 bulan sampai maksimum 15 tahun, dengan denda uang minimal Rp 10.000.000,00 dan maksimum Rp 1.500.000.000,00. (pasal 101 – 112)
  2. Sanksi Tambahan (pasal 115)
    1. wajib mengembalikan cagar budaya kepada kondisi keasliannya, baik bahan, bentuk, tata letak, dan/atau teknologi pengerjaannya atas tanggungan sendiri;
    2. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana;
  3. Untuk badan usaha berbadan hukum dan/atau badan usaha bukan berbadan hukum dikenai tindakan pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha.
  4. Jika pejabat karena melakukan perbuatan pidana melanggar suatu kewajiban khusus dari jabatannya, atau pada waktu melakukan perbuatan pidana memakai kekuasaan, kesempatan, atau sarana yang diberikan kepadanya karena jabatannya terkait dengan pelestarian cagar budaya, pidananya dapat ditambah 1/3 (sepertiga). (pasal 114)

Sejarah Dawet Ayu

Sejarah Dawet Ayu

Mbah Munarjo ketika masih hidup

Sejarah Dawet Ayu
Bagi sebagian besar masyarakat, terutama para pecinta kuliner, minuman Dawet Ayu tentu tidaklah asing lagi di telinga. Dawet Ayu bahkan telah dinobatkan sebagai salah satu kuliner nusantara oleh Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif Republik Indonesia beberapa tahun lalu. Dawet Ayu juga telah berdiaspora ke seluruh nusantara. Namun, jarang yang tahu sejarahnya, bahkan masyarakat Banjarnegara pun tidak semuanya mengetahui, sehingga kini bahkan Dawet Ayu dijadikan sebagai Muatan Lokal mata pelajaran pada jenjang Sekolah Dasar (SD), agar generasi mendatang tidak melupakan sejarah Dawet Ayu.
Dawet Ayu, sebagaimana yang dikisahkan oleh si empunya yang mempopulerkan Dawet Ayu, Nyonya Munarjo, warga Kelurahan Rejasa  Kecamatan Madukara Kabupaten Banjarnegara, menyatakan bahwa tadinya tidak ada istilah atau nama Dawet Ayu. “Senien nggih wontene dawet” (Dulu ya adanya dawet) ujar Munarjo yang bernama asli Marfuah. Kisah bermula ketika kelompok lawak Peyang Penjol Banyumas manggung di Banjarnegara, mereka mendapati dagangan Dawet Ayu tidak dijual oleh pedagang pria, sebagaimana lazimnya.
Pada awalnya, dawet memang hanya dijajakan dengan cara dipikul oleh laki-laki, menyusuri pematang sawah dan juga jalanan pedesaan, terutama saat panen padi tiba. Ketika itu, bahkan dawet sering kali dibarter dengan gabah/ padi hasil panen para petani yang sedang memanen padinya di sawah. Wajar jika hanya kaum Adam saja yang mampu melakoni pekerjaan berdagang dawet ini.
Munarjo mendobrak kebiasaan berjualan dawet dengan cara dipikul ketika pada tahun 1950-an dawetnya ditunggui (mangkal) di sebuah kios di depan Losmen Setia Jalan Veteran Banjarnegara. Istrinyalah yang diminta untuk menunggui bersamanya berjualan dawet. Karena yang menunggui perempuan, maka kelompok lawak Peyang Penjol yang ketika itu mampir ke warung Munarjo kemudian berujar “Panetes, wong sing dodol ayu, ya dejenengi bae Dawet Ayu” (Pantas karena yang berjualan cantik, ya dinamai saja Dawet Ayu) kenang Munarjo. Peyang Penjol kemudian bahkan menciptakan lagu Dawet Ayu dan dinyanyikan disela-sela pentas-pentas lawakan mereka. dari hal tersebut, Dawet Ayu ternyata mampu menjadi pemantik perubahan sosial, dari biasanya dijual secara monopoli oleh laki-laki, kemudian berubah dengan adanya keterlibatan perempuan, bahkan kini justru kebanyakan dijual oleh perempuan.
Munarjo sendiri awalnya tidak tahu kalau nama Dawet Ayu dipopulerkan oleh grup lawak Peyang Penjol. “Kulo malah nembe ngertos mbarang mireng teng kaset, wonten lagu Dawet Ayu” (Saya malah baru tahu ketika mendengar di kaset, ada lagu Dawet Ayu) kata Munarjo. Sejak saat itulah Dawet Ayu milik Munarjo terkenal di seantero Banyumas Raya. Awalnya Dawet Ayu ditenarkan oleh grup lawak Peyang Penjol yang dalam setiap pentasnya sering menyanyikan lagu Dawet Ayu. Demikian juga para dalang wayang, juga melalui sindennya sering mendendangkan pula lagu Dawet Ayu.
Kini Munarjo sudah kepala delapan. Tentunya jauh dari kata ayu lagi. Namun karyanya berupa Dawet Ayu, telah mempercantik namanya hingga dikenal dimana-mana. Bahkan ketika pada tahun 1960-an Presiden Soekarno berkunjung ke Banjarnegara untuk meninjau bendungan Bandjar Tjahjana Werken (BTW), beliau juga sempat mencicipi Dawet Ayu. Sayangnya kini hampir semua penjual dawet se nusantara mengklaim bahwa mereka menjajakan Dawet Ayu asli Banjarnegara. Memang, kebanyakan mereka berasal dari Kabupaten Banjarnegara. Padahal, Munarjo merasa tidak pernah memberikan lisensi mengenai Dawet Ayu-nya, dan tentu saja tak pernah pula mendapatkan royalti dari kekayaan intelektualnya dari penggunaan nama Dawet Ayu. Ia dan keluarga hanya berharap para pedagang mampu menjaga kualitas rasa dari Dawet Ayu, agar rasanya tetap enak.
Makna simbolik Semar Gareng
Mengenai keberadaan tokoh Semar Gareng dalam gerobak Dawet Ayu, ternyata memiliki makna simbolis yang dalam. Semar dan Gareng dapat disingkat kata belekang Semar, yaitu Mar, dan Gareng yaitu Reng. Sehingga jika digabungkan akan menjadi Mareng. Maka tak boleh keliru tempat memasangnya. Mareng disatu sisi dalam bahasa Jawa, berarti situasi kemarau, yang secara otomatis membuat orang akan memburu Dawet Ayu sebagai pelepas dahaga. Dan mareng di sisi yang lain dalam bahasa Jawa juga dapat diartikan datang, atau para penjual Dawet Ayu berharap pembeli berbondong-bondong mendatangi penjual Dawet Ayu.
Ada pula makna lainnya, yaitu mengambil kata depan dua tokoh punakawan tadi, yaitu Se, dan Gar. Yang jika digabungkan, maka menjadi kata Segar. Ya, Dawet Ayu Banjarnegara tak hanya Ayu dari segi rasa, namun juga segar.
------------------------------------------------------------- 
Dawet Ayu, as told by the owner who popularized Dawet Ayu, Mrs. Munarjo, a resident of Kelurahan Rejasa Madukara Sub-district, Banjarnegara District, stated that there was no term or name of Dawet Ayu. "Senien nggih wontene dawet" (Previously yes dawet) said Munarjo whose real name is Marfuah. The story begins when the Peyang Banyumas guerrilla group gigs in Banjarnegara, they find that the merchandise of Dawet Ayu is not sold by male traders, as is usual.
At first, dawet is only sold by the way shouldered by men, along the rice field bunds and also rural roads, especially when the rice harvest arrives. At that time, even dawet often bartered with grain / rice crops of farmers who are harvesting rice in the fields. Naturally if only the Adam who can melakoni this dawet trading job.

Munarjo broke the habit of selling dawet by the way borne when in the 1950s dawetnya ditunggui (mangkal) in a kiosk in front of the Inneria Jalan Veteran Banjarnegara. His wife was asked to wait with him to sell dawet. Due to those who waited for women, the group of Peyang Polls who then stopped by Munarjo stall and said "Panetes, wong sing dodol ayu, yes dejenengi bae Dawet Ayu" (No wonder because it sells pretty, just named Dawet Ayu) recalls Munarjo. Peyang Penjol then even created a song Dawet Ayu and sung on the sidelines of their gigantic performances. from that matter, Dawet Ayu turned out to be a lighter of social change, than usually sold in monopoly by men, then changed with the involvement of women, even now it is mostly sold by women.

Munarjo himself initially did not know that the name of Dawet Ayu was popularized by the group of Peyang Penjol. "Kulo nembe ngertos mbarang mireng teng tape, wonten lagu Dawet Ayu" (I even just know when heard on the cassette, there is a song Dawet Ayu) said Munarjo. Since then, Dawet Ayu belonging to Munarjo is well known throughout Banyumas Raya. Initially Dawet Ayu was confirmed by a group of Peyang Penjol Prayers who in each stage often sing the song Dawet Ayu. Similarly, puppeteer puppeteers, also through sindennya often also sing a song Dawet Ayu.

Munarjo is now head eight. Surely far from the word ayu again. But his work in the form of Dawet Ayu, has beautify his name to be known everywhere. Even when in the 1960s President Soekarno visited Banjarnegara to review the Tjahjana Werken (BTW) Bandjar dam, he also had a chance to taste Dawet Ayu. Unfortunately now almost all sellers dawet se nusantara claim that they peddle the original Dawet Ayu Banjarnegara. Indeed, most of them come from Banjarnegara District. In fact, Munarjo felt he had never given a license on his Dawet Ayu, and certainly never got royalties from his intellectual property from the use of Dawet Ayu's name. He and his family just hope the merchants are able to maintain the taste quality of 



Heni Purwono, S.Pd. M.Pd.
NIP 19841005 201001 1 022

Status: Monumen Dawet Ayu, bukan cagar budaya namun potensial menjadi cagar budaya. (Pihak Berwajib harap segera meregistrasikan)
Sanksi Pelanggaran Cagar Budaya
  1. Sanksi Dasar (untuk setiap orang)
    Pelaku kriminal dikenakan hukuman penjara minimal 3 bulan sampai maksimum 15 tahun, dengan denda uang minimal Rp 10.000.000,00 dan maksimum Rp 1.500.000.000,00. (pasal 101 – 112)
  2. Sanksi Tambahan (pasal 115)
    1. wajib mengembalikan cagar budaya kepada kondisi keasliannya, baik bahan, bentuk, tata letak, dan/atau teknologi pengerjaannya atas tanggungan sendiri;
    2. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana;
  3. Untuk badan usaha berbadan hukum dan/atau badan usaha bukan berbadan hukum dikenai tindakan pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha.
  4. Jika pejabat karena melakukan perbuatan pidana melanggar suatu kewajiban khusus dari jabatannya, atau pada waktu melakukan perbuatan pidana memakai kekuasaan, kesempatan, atau sarana yang diberikan kepadanya karena jabatannya terkait dengan pelestarian cagar budaya, pidananya dapat ditambah 1/3 (sepertiga). (pasal 114)

Minggu, 04 Maret 2018

Jejak SD INPRES Presiden Soeharto di Banjarnegara

Jejak SD INPRES Presiden Soeharto di Banjarnegara



awal masa Orde Baru aspek pendukung pendidikan dasar sangatlah kurang, maka sejak lahirnya pemerintah Orde Baru, pembangunan sektor pendidikan menjadi salah satu perhatian utama, Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden tentang pembangunan Sekolah Dasar. pembangunan SD Inpres mulai dibangun setelah dikeluarkannya Instruksi Presiden tahun 1973, kebijakan yang dikeluarkan merupakan kebijakan dua tahun sekali, pemerintah mengeluarkan program-program pendukung kebijakan SD Inpres, diantaranya adalah pembuatan kurikulum pendidikan, sistem pendidikan, penataran dan penempatan guru, penambahan buku-buku pelajaran, penambahan alat-alat peraga untuk menunjang pembelajaran dan pembangunan sarana prasarana lainnya.


Kebijakan SD Inpres berdampak pada peningkatan jumlah anak Sekolah Dasar pada tiap tahunnya dan semakin banyak gedung-gedung Sekolah Dasar walaupun pembangunannya belum merata sampai ke pelosok-pelosok desa. Penyelenggaraan pendidikan diletakkan pada perluasan pendidikan dasar dalam rangka mewujudkan pelaksanaan program wajib belajar, program ini membawa pendidikan yang lebih baik lagi. Tokoh-tokoh pendidikan mendukung program kebijakan SD Inpres, akan tetapi tetap memberikan saran dan kritik agar pemerintah selalu memperbaiki setiap kesalahan yang ada. Kata kunci: SD Inpres, Masa Orde Baru, tahun 1973-1983.
.
Bekas SD inpres di banjarnegara antara lain : 
SD negeri 1 gemuruh, 
SD negeri 2 pagerpelah, 
SD negeri 4 glempang,
SD negeri 2 wangon 
Dan masih banyak lainya. .

Jumat, 02 Maret 2018

Banjarnegara, Kepanduan, dan Syarikat Islam

Banjarnegara, Kepanduan, dan Syarikat Islam


Napak Tilas Sejarah di Monumen  Syarekat Islam - SMAS Cokroaminoto Banjarnegara.


Setiap daerah memiliki ceritanya masing-masing, tak terkecuali di Banjarnegara. Kota kecil yang terletak di tengah pegunungan Jawa Tengah ini memiliki kisah yang tidak kalah menarik dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Di antaranya adalah tentang eksistensi salah satu organisasi sosial politik tertua di Indonesia: Syarikat Islam (SI). SI di Banjarnegara telah lahir sejak tahun 1913. Di Banjarnegara, SI berkembang secara berkesinambungan, bahkan sampai saat ini. 

Darul Maarif: Masterpiece Pendidikan Islam Banjarnegara
Sejarah panjang SI di Banjarnegara telah meninggalkan serangkaian peristiwa yang menjadi tonggak penting peran kota ini dalam lintasan zaman. Peninggalan penting Syarikat Islam yang sangat penting bagi masyarakat Banjarnegara adalah Darul Maarif. Darul Maarif adalah lembaga pendidikan Islam yang didirikan oleh ulama dari Singapura bernama Muhammad Fadhlullah Suhaimi. Pada 1918 ia mulai mengembangkan madrasah yang dinamakan Darul Maarif yang berada di bawah naungan SI Banjarnegara. Sampai saat ini, Darul Maarif menempati tanah yang diwakafkan oleh Mochammad Noor pada tahun 1930. Lokasinya berada di tengah pusat Kabupaten Banjarnegara. 

Darul Maarif menjadi saksi bisu pergulatan SI Banjarnegara dalam dunia pergerakan. Di sinilah tempat berkumpul tokoh pergerakan nasional, seperti Agus Salim dan Tjokroaminoto ketika berkunjung di Banjarnegara. Paling tidak, ada dua peristiwa penting SI/PSI/PSII yang terjadi di Darul Maarif. Peristiwa tersebut adalah Kongres Pertama SIAP (Sarekat Islam Avdeeling Pandoe) pada 2-5 Februari 1928 dan Kongres ke-20 PSII pada 20-26 Mei 1934.

Pada masa pergerakan nasional, Darul Maarif tergolong sekolah yang maju dan modern. Banyak kalangan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah ini. Salah satu yang muncul sebagai tokoh pergerakan adalah Taufiqurrahman. Ia sempat menjadi kepala sekolah di sini pada 1937-1942. Setelah kemerdekaan, ia dipercaya menjadi sekretaris jenderal partai Masyumi. Di bidang pendidikan agama, alumni yang menonjol adalah K.H. Muntaha (1912-2004) pengasuh pondok pesantren Al-Asyariyah Kalibeber, Wonosobo. Ia adalah ulama yang banyak menghasilkan penghafal Al Quran.

Namun demikian, perjalanan panjang Darul Maarif sebagai lembaga pendidikan formal terhenti ketika Jepang menduduki Indonesia. Pada saat itu, sekolah tersebut ditutup seiring dengan pelarangan aktivitas politik dari Syarikat Islam. Setelah kemerdekaan, sekolah ini bertransformasi menjadi majelis taklim yang mengadakan kegiatan pengajian ke seluruh pelosok Banjarnegara. Saat ini, lokasi tempat sekolah Darul Maarif sudah ditempati oleh SMK dan SMA Cokroaminoto Banjarnegara.

Banjarnegara dan Kepanduan
Salah satu organ pergerakan Syarikat Islam yang sangat lekat dengan Banjarnegara adalah SIAP (Syarikat Islam Angkatan Pandu, dahulu bernama Sjarikat Islam Afdeeling Padvinderij). SIAP merupakan sayap pergerakan pemuda yang dimiliki oleh PSI. Organisasi ini didirikan pada 9 April 1928 pada saat PSI menyelenggarakan kongres di Yogyakarta. Selain SIAP, gerakan pemuda yang menjadi bagian dari PSI adalah Pemuda Muslimin Indonesia (PMI). Keduanya merupakan organisasi otonom yang saling menguatkan dan mendukung kaderisasi dalam tubuh PSI.

Dalam perkembangannya, Banjarnegara sangatlah lekat dengan SIAP. Kedekatan emosional antara keduanya bermula ketika pada kongres SIAP pertama pada 2-5 Februari 1928, Banjarnegara dipilih sebagai tempatnya. Pada kongres yang pertama ini terjadi peristiwa penting terkait penggantian istilah padvinders atau panvinderij. Dalam kongres yang terselenggara di Darul Maarif itu, Agus Salim mengusulkan agar istilah padvinders diubah menjadi ‘pandu’ dan istilah padvinderij menjadi ‘kepanduan.’ Hadirin yang mengikuti kongres tersebut setuju, sehingga sejak saat itu SIAP menjadi Sarekat Islam Afdeling Pandoe. Pergantian istilah ini menjadi penanda baru lahirnya semangat pergerakan kebangsaan. 

Istilah ‘pandu’ yang berarti penunjuk jalan kemudian digunakan secara nasional sampai kemudian digantikan dengan istilah ‘pramuka’ pada tahun 1960-an. Munculnya istilah ‘pandu’ dan ‘kepanduan’ dilatarbelakangi larangan penggunaan istilah padvinders atau padvinderij oleh NIPV. Semula NIPV berkeinginan agar gerakan kepanduan di seluruh Hindia Belanda berada di bawah naungannya. Akan tetapi, hanya ada satu yang bersedia bergabung. Akibatnya, muncul ketidaksenangan kepada organisasi yang menolak bergabung. 

Kedekatan antara SIAP dan Banjarnegara tampak pula dari keberadaan Kwartir Besar yang berada di kota ini pada tahun 1954. Lokasinya berada di daerah Clincing yang berdekatan dengan alun-alun Banjarnegara. Selain itu, salah satu kader PSII Banjarnegara pernah menjabat sebagai pimpinan SIAP. Ia adalah Imam Supardjan yang kelak juga menjadi wakil presiden Lajnah Tanfidziah (pimpinan eksekutif) PSII.

 Tsabit Azinar Ahmad.

 Status: Belum Terregistrasi (Pihak Berwajib harap segera meregistrasikan)
Sanksi Pelanggaran Cagar Budaya
  1. Sanksi Dasar (untuk setiap orang)
    Pelaku kriminal dikenakan hukuman penjara minimal 3 bulan sampai maksimum 15 tahun, dengan denda uang minimal Rp 10.000.000,00 dan maksimum Rp 1.500.000.000,00. (pasal 101 – 112)
  2. Sanksi Tambahan (pasal 115)
    1. wajib mengembalikan cagar budaya kepada kondisi keasliannya, baik bahan, bentuk, tata letak, dan/atau teknologi pengerjaannya atas tanggungan sendiri;
    2. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana;
  3. Untuk badan usaha berbadan hukum dan/atau badan usaha bukan berbadan hukum dikenai tindakan pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha.
  4. Jika pejabat karena melakukan perbuatan pidana melanggar suatu kewajiban khusus dari jabatannya, atau pada waktu melakukan perbuatan pidana memakai kekuasaan, kesempatan, atau sarana yang diberikan kepadanya karena jabatannya terkait dengan pelestarian cagar budaya, pidananya dapat ditambah 1/3 (sepertiga). (pasal 114)


Our Blog

14372 foto
foto Banjarnegara Masa lampau
9000 Dokumen
dokumen berharga berdirinya Banjarnegara
6208 Artefak
sisa-sisa peradaban Banjarnegara

Our Team

Ahli Sejarah
Relawan
Budayawan
Relawan
Arkeolog
relawan
Penulis Sejarah
Relawan

Contact

Hubungi Kami

kami sangat mengapresiasi segala kontribusi anda dalam Sejarah dan Kebudayaan Banjarnegara, Bergabunglah bersama kami untuk mengangkat Kebudayaan Banjarnegara agar dikenal oleh masyarakat luas

Alamat:

Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia

Jam Kerja:

setiap saat kami ada

E-mail:

cbudayabanjar@gmail.com