Kami Disini Peduli Dengan Sejarah dan Budaya Banjarnegara

Komunitas Sejarah dan Budaya yang mengupas tuntas sejarah peristiwa, benda dan bangunan cagar budaya Banjarnegara.

Mulai Dari Sini

Apa yang Kami Ulas?

Peristiwa

merupakan kejadian atau fakta yang pernah terjadi di Banjarnegara dan menjadi sumber data sejarah Kabupaten Banjarnegara

Read More

Bangunan

Bangunan bersejarah merupakan suatu bukti adanya aktivitas manusia (sejarah) yang menjadi indikator untuk melihat perkembangan sejarah di Banjarnegara

Read More

Kebudayaan

Kebudayaan adalah sesuatu yang di wariskan secara turun-temurun dan memiliki nilai yang luhur , di Banjarnegara kebudayaan dapat ditemui di segala sudut.

Read More

Event

Kami rutin mengadakan event dalam mengenalkan sejarah Banjarnegara pada masyarakat. Follow IG @cagarbudaya_ untuk Update terkini.

Read More

Sejarah Banjarnegara

Selasa, 26 Maret 2019

Soemitro Kolopaking Poerbonegoro


Anggota BPUPKI, 3 Zaman menjadi Bupati
Riwayat Ningrat Jiwa Merakyat
Soemitro Kolopaking Poerbonegoro dilahirkan di Papringan, Kabupaten Banyumas, Karesidenan Banyumas, 14 juni 1887. Dalam Tedhaka Serat Soedjarah  Joedanagaran  (koleksi Museum Sana Budaya, Yogyakarta) memuat teks Salasilah Kiyahi Kertawangsa Kalapahaking Sapindah pada halaman 128-133[1]. Silsilah tersebut sejalan dengan silsilah milik Mas Atmodipura, patih pensiun Purbalingga yang ditulis oleh Raden Riya Prayadirja, Wedana Srati Panandon di Ngayokyakarta Hadiningrat. Bedanya, silsilah pertama tidak mengaju kepada raja Maja Pahit Brawijaya V, tetapi langsung mengaitkan diri dengan tokoh kiyai Ageng Mangir IV dan Penambahan Senapati.

Selasa, 26 Februari 2019

Kenapa Hari Jadi Banjarnegara Dirubah?


Selasa 26 Februari 2019, merupakan hari bersejarah bagi masyarakat Kabupaten Banjarnegara. Karena mulai hari ini, kita memiliki hari jadi yang baru. Tentu banyak masyarakat bertanya-tanya mengapa Hari Jadi Banjarnegara berganti? Mengingat biasanya Hari Jadi Banjarnegara selalu diperingati pada tanggl 22 Agustus.

Sebenarnya tak ada yang menyangkal bahwa secara de jure, Kabupaten Banjarnegara lahir tanggal 22 Agustus 1831. Hari Jadi Banjarnegara ini ditetapkan Pemkab Banjarnegara dengan Perda Nomor 3 Tahun 1994. Semangat Perda penetapan hari jadi tersebut, pada masanya lebih dimaksudkan untuk secara pragmatis membuat momen budaya dan pariwisata. Dasar penetapan tanggal, bulan dan tahun tersebut, merupakan titi mangsa penetapan RT Dipayudha IV sebagai Bupati Banjarnegara oleh Pemerintah Kolonial Belanda memalui Resolutie van den 22 Agustus 1831 No. 1, usai Java Oorlog (Perang Diponegoro) tahun 1830.


Secara ideologis, penetapan tersebut banyak digugat, karena bisa dikatakan justru momen kekalahan bangsa dan penghilangan terhadap peran trah Mangunyudho yang sangat antikolonial.

Beberapa kali diskusi digelar untuk mengkaji, meninjau dan meneliti tentang hari jadi yang lebih tepat. Paling tidak Pemkab Banjarnegara telah dua kali menggelar sarasehan hari jadi, pada tahun 2015 dan 2017. Akhirnya, DPRD Kabupaten Banjarnegara lah yang berinisiatif untuk mengajukan Raperda Hari Jadi pada tahun 2018. Setelah diadakan penelitian dan kajian berkali-kali di Pansus DPRD, barulah pada akhirnya Pansus menetapkan Hari Jadi Banjarnegara yang baru, yaitu pada tanggal 26 Februari 1571, atau 448 tahun yang lalu.

Tanggal 26 Februari 1571 menjadi patokan, atas peristiwa diwisudanya Jaka Kaiman pada 22 Februari 1571 (Hari Jadi Banyumas) oleh Sultan Pajang sebagai Adipati Wirasaba, setelah peristiwa terbunuhnya Wargohutomo akibat fitnah Demang Toyareka pada tragedi Sabtu Pahing.

Setelah Jaka Kaiman yang tidak menyangka diangkat menjadi Bupati Wirasaba menggantikan mertuanya, maka pada saat pertemuan kedua dengan Sultan Pajang pada saat Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal, tepatnya pada 26 Februari 1571, Jaka Kaiman mengusulkan untuk membagi Kadipaten Wirasaba menjadi empat, yaitu Wirasaba, Kejawar, Merden dan Banjar Petambakan. Ini adalah sebuah fakta pikiran, yang bersumber dari Babad Kalibening yang dijadikan sebagai rujukan penetapan Hari Jadi Banyumas.

Maka tanggal itulah yang rasanya paling tepat dijadikan titi mangsa berdirinya Kabupaten Banjarnegara. Pada saat itu, Banjar Petambakan berturut-turut dipimpin oleh Kyai Ngabei Wiroyudho, Raden Ngabei Banyak Wide, Raden Ngabei Mangunyudho I, serta Raden Ngabei Kenthol Kertoyudho (Mangunyudho II). Artinya, jika nantinya ditetapkan secara resmi sebagai hari jadi, maka Pemkab Banjarnegara telah mengakomodir bupati-bupati Banjarnegara sebelum 1831. Hal tersebut tentu saja sangat memuaskan bagi warga Banjar Kulon maupun Petambakan yang merasa akar sejarahnya diakui oleh Pemkab Banjarnegara.

Hal ini wajar, mengingat selama ini seolah bupati yang diakui eksistensinya adalah Dipayudha IV ke atas atau sejak 22 Agustus 1831, yang nota bene mewakili masa Banjarnegara di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Belanda secara langsung. Padahal dari tinjauan nasionalisme, bupati-bupati sebelum tahun 1831 justru sangat kental nasionalismenya.

Ada paling tidak dua hal yang dapat kita petik dari perayaan hari jadi yang baru ini. Pertama, kita ingin menanamkan sikap kerelaan berbagi. Jaka Kaiman telah memberikan contoh kerelaan hati untuk berbagi kekuasaan. Suatu hal yang sangat sulit kita temui saat ini dimana kekuasaan justru menjadi ajang perebutan yang kadang berlangsung keras dan kasar.

Kedua, dengan hari jadi yang baru ini, harapannya mampu mengakomodir dan mengokohkan eksistensi semua pendahulu Banjarnegara. Banjarnegara tidak hanya muncul tiba-tiba pada tahun 1831, namun telah ada, telah eksis sejak tahun 1571.

Artinya, ini adalah momen kebersamaan untuk menyatukan trah dari Banjar Petambakan, Banjar Kulon atau Banjar Watu Lembu dan Banjarnegara saat ini. Dengan hari jadi yang baru ini, harapannya semakin mengokohkan persatuan dan kesatuan kita sebagai warga Banjarnegara untuk membangun Banjarnegara yang bermartabat dan sejahtera pada masa kini dan masa yang akan datang.




Heni Purwono, S.Pd. M.Pd.

Ketua Umum Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI), Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah SMA Kabupaten Banjarnegara, Pengurus Pusat Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI).

Kamis, 08 November 2018

Peringati Hari Pahlawan, Siswa SMAN 1 Sigaluh Bersihkan Monumen Bandingan


Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, SMA Negeri 1 Sigaluh melaksanakan kegiatan bersih monumen perjuangan di Desa Bandingan Kecamatan Sigaluh, Kamis (8/11).

Puluhan siswa pengurus OSIS dan MPK SMAN 1 Sigaluh, didampingi guru, tentara dari Koramil Sigaluh dan juga perangkat Desa Bandingan bahu membahu membersihkan monumen yang sudah dipenuhi rumput ilalang dan juga sampah dedaunan.



Kaur Umum Pemerintah Desa Bandingan Trimo Santoso sangat mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, pembersihan monumen Bandingan sangat tepat sebagai momen memperingati Hari Pahlawan. "Kami sangat berterimakasih karena siswa SMAN 1 Sigaluh peduli dengan tempat bersejarah yang ada di desa kami. Semoga kepedulian ini akan meningkatkan jiwa nasionalisme siswa" ujar Trimo.

Kenalkan Sejarah Lokal

Guru sejarah SMA Negeri 1 Sigaluh yang mendampingi siswa dalam kegiatan tersebut mengungkapkan, kegiatan bersih monumen seperti ini dapat dijadikan sebagai ajang guru sejarah untuk mengenalkan sejarah lokal. Karena siswa sering kali ketika belajar sejarah merasa apa yang dipelajarinya abstrak dan jauh dari kehidupan nyatanya saat ini. "Perjuangan masa perang kemerdekaan kan hampir merata di seluruh wilayah. Beberapa juga sudah dibuatkan monumennya. Hal itu merupakan kesempatan bagi guru sejarah untuk belajar sejarah secara langsung di lapangan sehingga siswa merasa dekat dengan peristiwa sejarah yang selama ini kebanyakan dipelajari dari buku" jelas Heni.

Di monumen Bandingan ini, tambah Heni, siswa dapat dikenalkan dengan pahlawan Letda Makhlani yang bersama pasukan Gembong Singo Yudho, menghadang konvoi pasukan Belanda NICA pada 6 Februari 1949. "Penghadangan itu menewaskan satu orang opsir beserta empat pengawalnya, dan juga mengakibatkan tiga kendaraan rusak berat. Itu menunjukkan bahwa perjuangan di level lokal tidak kalah penting perannya dalam mempertahankan kemerdekaan" jelas Heni.

Para pelajar akan semakin bangga manakala memahami bahwa pasukan Belanda yang dihadapi para pejuang adalah pemenang Perang Dunia ke 2, padahal para pejuang menghadapinya hanya dengan senjata rampasan Jepang, bambu runcing dan senjata tajam lain seadanya, pungkas Heni.

Senin, 05 November 2018

Pekan Kepahlawanan, Guru dan Siswa Kenakan Pita Merah Putih

Dalam rangka Pekan Kepahlawanan SMAN 1 Sigaluh, guru dan siswa mengenakan pita merah putih di lengan kanan baju sebagai tanda dimulainya kegiatan, Senin (5/11). Penyematan pita tersebut mengawali kegiatan yang nantinya akan dirangkai dengan bersih monumen Bandingan, lomba pidato Bung Tomo, lomba mirip pahlawan, lomba puitisasi pahlawan dan lomba lagu perjuangan dengan musik atonal.

Kepala SMAN 1 Sigaluh Imam Raharjo mengungkapkan, kegiatan memperingati hari pahlawan sudah sejak 2011 dilaksanakan dengan berbagai kegiatan kreatif. "Pernah kita lombakan cipta lagu perjuangan, dan juga fotografi monumen perjuangan. Kali ini yang baru adalah lomba lagu perjuangan dengan musik atonal" kata Imam.

Musik atonal, jelas Imam, adalah musik tanpa nada dengan memanfaatkan alat apapun, yang penting dapat mengeluarkan bunyi, yang ada disekitarnya. "Maknanya, kita ingin para siswa merasakan bagaimana dahulu para pejuang berperang dengan alat seadanya, namun mereka tetap pantang menyerah mengusir penjajah" tambahnya.

Adapun koordinator kegiatan Pekan Kepahlawanan SMAN 1 Sigaluh Heni Purwono mengungkapkan bahwa untuk lomba mirip pahlawan dan juga pidato Bung Tomo, sudah beberapa kali dilaksanakan. "Untuk pidato Bung Tomo, siswa harus menghafalkan cukup panjang. Selain itu, dalam berorasi akan dinilai intonasi dan juga kostum yang dikenakan. Intinya kita ingin Bung Tomo seakan hidup lagi menyemangati generasi saat ini" jelas Heni.

Adapun puncak acara, akan dilaksanakan kegiatan upacara Hari Pahlawan pada 10 November memdatang, dan juga bersih monumen Bandingan, yang merupakan monumen penghadangan tentara Sekutu dan NICA oleh para pejuang lokal Banjarnegara.


Minggu, 28 Oktober 2018

Ratusan Pelajar Sumpah Menjaga Cagar Budaya


Ada yang berbeda dari peringatan Hari Sumpah Pemuda yang dilakukan oleh para peserta Napak Tilas Sejarah dan Cagar Budaya, Minggu (28/10) di Kota Lama Klampok Banjarnegara. Di akhir sesi diskusi, selain mengikrarkan Sumpah Pemuda, dipimpin oleh salah satu peserta, mereka juga mengikrarkan Sumpah Pelestarian Cagar Budaya Banjarnegara. “Kami putera dan puteri Banjarnegara bersumpah, akan mengunjungi, melindungi dan melestarikan semua cagar budaya yang ada di Banjarnegara” begitu ikrar yang dibacakan oleh Febrian Yudhatama, yang ditirukan oleh ratusan peserta.



Ketua Umum Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) Heni Purwono sebagai inisiator kegiatan mengungkapkan sumpah tersebut muncul sebagai reaksi terhadap keberadaan cagar budaya yang belum terlindungi sepenuhnya di Banjarnegara. “Kami tadi melihat bagaimana sisa pabrik gula Klampok yang begitu megah pada zamannya, dan itu ada arsip fotonya di laman KITLV, Gahetna maupun Tropen Museum Belanda, namun kini tidak lebih hanya tersisa satu pintu utama beberapa petak ruangan dan pagar kelilingnya. Itu sangat memprihatinkan, sehingga kita berharap dengan sumpah tersebut mendorong kepedulian bersama terhadap cagar budaya” terang Heni.

Sebelumnya, para peserta terlebih dahulu menapak tilas cagar budaya yang ada di sekitar kota lama Klampok seperti bekas pabrik gula yang berada di belakang aula Balai Latihan kerja (BLK) Klampok, mengitari pagar keliling pabrik gula, melihat-lihat kantor kecamatan, kantor pos, SD Negeri 1 Klampok dan berakhir di komplek perumahan dinas BKL Klampok. Semua objek tersebut tentu berkaitan dengan keberadaan pabrik gula Klampok yang mengalami puncak kejayaan antara tahun 1912 hingga tutup pada tahun 1930 karena krisis ekonomi global.

Penyidik Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Deny Wahju Hidajat yang hadir dalam kegiatan tersebut mengungkapkan, pelestarian cagar budaya memang menjadi tanggungjawab bersama antara masyarakat dan pemerintah. “Masyarakat justru menjadi garda terdepan dalam pelestarian cagar budaya mengingat keterbatasan BPCB. Kasus-kasus yang kami tangani terkait pencurian maupun perusakan cagar budaya, rata-rata berawal dari laporan masyarakat. Karenanya bagus jika masyarakat memiliki kepedulian yang tinggi terhadap cagar budaya” ujar Deny.

Masyarakat Benteng Utama Pelestarian Cagar Budaya

Ratusan siswa SLTA se Banjarnegara, Minggu (28/10), bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda mengikuti kegiatan Napak Tilas Sejarah dan Cagar Budaya Kota Lama Klampok. Kegiatan yang dihelat oleh Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) bekerjasama dengan Direktorat Sejarah Ditjend Kebudayaan Kemdikbud itu, merupakan bagian dari 4 Even Sejarah Banjarnegara. Para peserta diajak menapak tilas kejayaan pabrik gula Klampok yang beroperasi antara tahun 1912 hingga 1939.



Dipandu oleh pegiata cagar budaya dari Banyumas Heritage Gritje Gregory Hadiwono, para peserta diajak "blusukan" menelusuri sisa-sisa bangunan pabrik gula yang saat ini telah beralih fungsi menjadi Balai Latihan Kerja Provinsi, menelusuri kantor-kantor pemerintahan, sekolah serta perumahan pegawai pabrik gula diera kolonial.

Setelahnya, para peserta diajak berdiskusi tentang upaya pelestarian cagar budaya. Penyidik Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Deny Wahju Hidajat mengungkapkan, masyarakat dalam hal ini diwakili oleh komunitas sejarah, berperan vital dalam pelestarian cagar budaya. "Kita di BPCB karena terbatas jumlah dan cakupannya, tidak bisa berbuat apa-apa jika tidak didukung masyarakat. Karena sejatinya masyarakat adalah benteng utama pelestarian cagar budaya. Karena sehari-hari merekalah yang ada di sekitar cagar budaya" ujar Deny.

Wakil Bupati Banjarnegara yang hadir melepas peserta napak tilas berharap, generasi muda harus menjadi ujung tombak pelestarian cagar budaya. "Pembangunan masa kini tidak berarti apa-apa manakala abai terhadap nilai-nilai sejarah di masa lampau. Kegiatan seperti ini harus kongkrit mewujudkan masyarakat yang benar-benar sadar akan pentingnya sejarah" ujar Wabup.

Senada dengan hal itu, Ketua Umum YSMI Heni Purwono juga berharap para peserta napak tilas menjadi pionir pelestarian cagar budaya. "Kita memiliki peninggalan sejarah dan cagar budaya yang lengkap mewakili era klasik Hindu Budha, Islam, Kolonial, Pergerakan Nasional hingga era kemerdekaan. Sayangnya pelestarian terhafap hal itu belum optimal" kata Heni.

Hal itu, tambahnya, dibuktikan dengan belum adanya Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dan juga Perda mengenai cagar budaya. "Diharapkan dengan kegiatan ini para pemangku kepentingan terdorong untuk merealisasikannya" harap Heni.

Salah satu peserta napak tilas, Sarmono, mahasiswa Politeknik Banjarnegara, mengaku takjup dengan peninggalan pabrik gula dan kawasan perumahan di kota lama Klampok. "Baru kali ini saya melihat, ternyata sangat bagus. Sayang sekali bangunan utama pabrik gula tinggal sedikit sekali yang tersisa" katanya.

Our Blog

14372 foto
foto Banjarnegara Masa lampau
9000 Dokumen
dokumen berharga berdirinya Banjarnegara
6208 Artefak
sisa-sisa peradaban Banjarnegara

Our Team

Ahli Sejarah
Relawan
Budayawan
Relawan
Arkeolog
relawan
Penulis Sejarah
Relawan

Contact

Hubungi Kami

kami sangat mengapresiasi segala kontribusi anda dalam Sejarah dan Kebudayaan Banjarnegara, Bergabunglah bersama kami untuk mengangkat Kebudayaan Banjarnegara agar dikenal oleh masyarakat luas

Alamat:

Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia

Jam Kerja:

setiap saat kami ada

E-mail:

cbudayabanjar@gmail.com